unique visitors counter
⌂ Beranda › News › IHSG Turun 0,39 Persen ke 5.986 Imbas Volatilitas Global
News

IHSG Turun 0,39 Persen ke 5.986 Imbas Volatilitas Global

Ilustrasi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di bursa saham Indonesia
IHSG Turun 0,39 Persen ke 5.986 Imbas Volatilitas Global
A A Ukuran Teks16px

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 0,39 persen atau turun 23,290 poin ke level 5.986,212 pada awal perdagangan Jumat (2/10) pukul 09.14 WIB.

Penurunan ini terjadi seiring tekanan pada bursa saham Asia di tengah volatilitas pasar obligasi global dan valuta asing.

Data RTI mencatat 362 saham turun, 204 saham menguat, dan 173 saham stagnan.

Total volume perdagangan pagi itu mencapai 43,8 miliar saham dengan nilai transaksi mendekati Rp 2,3 triliun.

Sektor Teknologi Paling Tertekan

Delapan indeks sektoral berada di zona merah, dengan penurunan terdalam dialami sektor teknologi melalui IDX-Techno sebesar 1,79 persen.

Sektor IDX-Infra menyusut 0,58 persen, diikuti IDX-Finance yang turun 0,38 persen.

Di jajaran LQ45, PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) turun 6,81 persen ke Rp 1.505 per saham.

Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) tergerus 3,57 persen ke Rp 27, sementara PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) melemah 2,10 persen menjadi Rp 50.

Sebaliknya, PT Astra International Tbk (ASII) menguat 1,33 persen ke Rp 4.570.

PT Alamtri Resources Tbk (ADRO) melaju 1,24 persen ke Rp 2.440, diikuti PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) yang naik 1,22 persen ke Rp 24.950.

Koreksi IHSG berjalan searah dengan bursa saham Asia yang serentak melemah pada hari yang sama.

Investor cenderung hati-hati menjelang rilis data tenaga kerja Amerika Serikat yang akan menentukan proyeksi kebijakan suku bunga The Federal Reserve.

Berdasarkan laporan Reuters, indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang terkikis 0,5 persen dan berada di jalur penurunan mingguan 1,7 persen.

Indeks Nikkei Jepang terkoreksi 0,7 persen meski tetap mencatat penguatan mingguan sekitar 3,1 persen.

Gejolak pasar global terpicu lonjakan imbal hasil US Treasury 10 tahun yang sempat menembus 5,34 persen, posisi tertinggi sejak 2002.

Imbal hasil itu kemudian melandai ke kisaran 5,25 persen di pasar Asia dan sempat mendorong penguatan kontrak berjangka indeks Wall Street.

Sentimen domestik juga dibayangi ketidakpastian usai perombakan Kabinet Merah Putih serta fluktuasi nilai tukar rupiah, seperti tercatat dalam SAPA MENTARI BRI Danareksa Sekuritas.

Inflasi domestik September 2026 tercatat 3,28 persen secara tahunan, sementara surplus neraca perdagangan Agustus 2026 terjaga di angka US$ 3,55 miliar.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru