Seberapa besar pemahaman yang dibutuhkan cinta?
Haruskah dua orang benar-benar mengerti satu sama lain, menatap arah yang sama, dan hidup di dunia yang serupa agar hubungan bertahan?
Atau tetap berada di sisi seseorang, bahkan ketika sebagian dirinya tak pernah bisa dimengerti, juga bisa disebut cinta?
Pertanyaan itu membekas setelah menonton film baru sutradara Lee Chang-dong, "Possible Love."
Film ini dibuka dengan pertemuan dua pasangan suami istri dari dunia yang sangat berbeda.
Ho-seok, diperankan Sul Kyung-gu, adalah pekerja yang terkena pemutusan hubungan kerja dan hidup bersama istrinya, Mi-ok, yang diperankan Jeon Do-yeon.
Ye-ji, diperankan Cho Yeo-jeong, adalah pembuat film dokumenter yang ingin merekam kehidupan mereka, sementara Zo In-sung memerankan suaminya, Sang-woo.
Saat kedua pasangan semakin dekat, hasrat dan kekosongan emosional mereka perlahan muncul ke permukaan.
Film dibuka dengan perintah yang menggema sepanjang cerita: "Jangan mengingini milik sesamamu."
Kehidupan modern terus mengajak orang melihat apa yang dimiliki orang lain, seperti rumah lebih baik, uang lebih banyak, atau stabilitas lebih besar.
Keempat tokoh dalam "Possible Love" menemukan pada satu sama lain sesuatu yang absen dari hidup mereka sendiri.
Mereka yang berkecukupan penasaran pada yang kekurangan, sementara yang tanpa privilese mengintip dunia mereka yang memilikinya.
Seseorang mungkin mengangkat kamera karena benar-benar ingin memahami penderitaan orang lain. Namun pada titik tertentu, tindakan memahami itu bisa berubah menjadi tindakan mengambil alih kehidupan orang lain.
Mi-ok dan Daya Hidup yang Tak Mudah Dijelaskan
"Possible Love" menolak menghakimi tokohnya dengan mudah. Kekayaan tidak membuat seseorang jahat, begitu pula kemiskinan tidak membuat seseorang berbudi.
Hasrat bisa merembes bahkan ke dalam keinginan tulus untuk menolong orang lain.
Hubungan yang diyakini dibangun atas dasar cinta bisa sekaligus menyimpan kecemburuan, rasa rendah diri, kemarahan, dan kebosanan.
Di pusat kompleksitas emosional itu ada Mi-ok. Suaminya, Ho-seok, hidup dengan luka dan kemarahan mendalam setelah kehilangan pekerjaan.
Hidup mereka sulit dan masa depan tak pasti.
Namun Mi-ok memiliki daya hidup yang mencolok. Ia tidak optimistis karena naif terhadap kenyataan.
Ia tahu persis posisinya, tetapi tidak melebih-lebihkan ketidakbahagiaannya atau merendahkan diri saat berhadapan dengan kehidupan orang lain yang lebih beruntung.
Jeon memerankan Mi-ok dengan kealamian luar biasa. Ia tidak secara terang-terangan memperlihatkan kesedihan, tetapi kesedihan itu selalu hadir.
Ia tidak berusaha tampak kuat, namun kekuatan tetap muncul.
Alih-alih menjelaskan emosi Mi-ok, Jeon seolah sekadar menghuninya. Tak lama, penonton berhenti menonton seorang aktor berakting dan mulai menonton seseorang yang hidup.
Hal itu membuat reuni Lee dan Jeon terasa istimewa.
"Possible Love" mempertemukan mereka kembali hampir dua dekade setelah "Secret Sunshine," drama Lee tahun 2007 yang mengantar Jeon meraih Best Actress di Festival Film Cannes.
Jika Shin-ae, tokoh Jeon dalam "Secret Sunshine," mempertanyakan Tuhan setelah kehilangan yang tak tertahankan, Mi-ok tampak mencari tempat berpijak dalam hidup yang telah diberikan kepadanya.
Ia mengamati suaminya yang terluka, melirik dunia yang tampak lebih baik, dan kadang goyah, namun terus menjalani hidupnya sendiri.
Yang mencegahnya terasa seperti sekadar pasrah adalah daya hidup yang dijaga Jeon dalam tokoh itu.
Ho-seok yang diperankan Sul juga sulit direduksi menjadi label sederhana seperti "pekerja yang terkena PHK." Kehilangan pekerjaan merenggut lebih dari sekadar gaji.
Hal itu juga mengguncang posisi sosial yang menjadi dasar ia memahami dirinya dan merusak rasa martabatnya.
Sul seolah menorehkan rasa malu, kemarahan, dan ketidakberdayaan yang menumpuk pada tubuh Ho-seok.
Penonton mungkin tidak bisa menerima semua kemarahan Ho-seok, tetapi sulit mengabaikan kondisi yang melahirkannya.
Cho dan Zo juga memberi penampilan meyakinkan sebagai tokoh yang menolak pembagian sederhana antara baik dan jahat.
Upaya Ye-ji merekam kehidupan Ho-seok dan Mi-ok menjadi penting karena mulai terasa seperti pertanyaan yang film ini ajukan pada dirinya sendiri.
Pada titik mana mengamati penderitaan orang lain berhenti menjadi pemahaman dan berubah menjadi konsumsi?
Seberapa dekat seorang pembuat film yang mengubah luka seseorang menjadi sinema bisa mendekati kehidupan orang itu?
Bisakah jarak antara pemegang kamera dan orang yang berdiri di depannya pernah hilang?
Pertanyaan itu tampak diarahkan bukan hanya kepada Ye-ji, tetapi juga kepada Lee sendiri.
Dengan cara ini, "Possible Love" bergerak melalui persoalan kerja, PHK, dan kelas sebelum mengalihkan pandangannya pada tindakan pembuatan film itu sendiri.
Pada akhirnya, semua pertanyaan itu bermuara pada cinta. Di suatu tempat antara keinginan memahami kehidupan orang lain dan keinginan memilikinya, bagaimana kita mencintai seseorang?
Arti Kata 'Possible' yang Berbobot
Judul "Possible Love" terdengar sederhana, bahkan sedikit pasrah. Namun setelah menonton filmnya, kata "possible" mulai membawa bobot yang mengejutkan.
Cinta sempurna mudah dibayangkan: dua orang yang saling memahami, tak pernah mengkhianati, dan tetap sehati sampai akhir. Cinta nyata memuat semua momen yang ditinggalkan fantasi.
Ada kata dan tindakan yang tak bisa kita pahami, kecemburuan dan kebingungan yang memalukan, serta perasaan yang tak bisa dijelaskan bahkan kepada orang terdekat.
Tetap berada di sisi seseorang meski mengetahui semua itu adalah hal yang sulit. Cinta sendiri tidak otomatis menyelesaikan kesulitan tersebut.
Mungkin itu sebabnya Mi-ok tetap membekas lama setelah film berakhir. Bukan karena hidupnya memberi jawaban, tetapi karena ia terus hidup bahkan saat goyah.
Hari lain datang meski emosi tak bisa dipahami dan masalah belum terselesaikan. Dan dalam hidup itu, perasaan seseorang terhadap orang lain bisa mulai bergerak lagi.
Meninggalkan ruang teater membawa kita kembali ke pertanyaan awal film: bisakah kita mencintai seseorang sambil menerima bahwa sebagian dirinya mungkin selamanya di luar pemahaman kita?
Masih belum ada jawaban mudah.
Namun bahkan saat menunggu pemahaman sempurna yang mungkin tak pernah datang, tetap mungkin untuk bertahan di sisi seseorang.
Dalam pengertian itu, "Possible Love" akhirnya meninggalkan pertanyaan lain: bukan apakah cinta bisa sempurna, melainkan bagaimana kita memilih untuk tetap berada di sisi orang yang kita cintai.
