Tidur cukup sering dianggap sebagai solusi utama untuk memulihkan energi. Namun, banyak orang masih merasa lelah setelah tidur yang cukup.
Dokter Alexa Davis mengungkapkan bahwa tuntutan hidup sehari-hari yang membuat seseorang kewalahan dan terkuras menjadi penyebab utamanya.
Ia menegaskan bahwa tidur saja tidak cukup untuk memulihkan kondisi tubuh ketika beban mental dan emosional terus menumpuk.
Beban Mental dan Emosional
Istirahat memiliki makna lebih luas dari sekadar tidur. Rasa lelah dapat muncul akibat beban pikiran dari konsentrasi berlebih, pengambilan keputusan, dan tenggat waktu pekerjaan.
Kelelahan mental ditandai dengan kesulitan berkonsentrasi, mudah lupa, dan pikiran yang terus berpacu meski jam kerja telah usai.
Selain faktor mental, tekanan emosional seperti kebiasaan menekan perasaan dan beban hubungan sosial turut memicu kelelahan tubuh secara keseluruhan.
Paparan rangsangan terus-menerus dari layar gawai, notifikasi, dan suara bising juga membebani indra hingga membuat seseorang berisiko merasa kewalahan.
Menyesuaikan Bentuk Istirahat
Psikolog Michael Carollo memberikan pandangan lain mengenai mekanisme pemulihan energi melalui pergantian jenis kegiatan harian.
Menurutnya, setelah menggunakan banyak energi mental untuk duduk dan berkonsentrasi, seseorang mungkin beristirahat dengan melakukan aktivitas fisik atau olahraga.
Penyesuaian bentuk istirahat perlu diselaraskan dengan jenis kelelahan yang dialami, seperti mengambil suasana tenang setelah banyak berinteraksi sosial.
Carollo menekankan pentingnya menemukan tingkat toleransi pribadi terhadap berbagai aktivitas dan menyeimbangkannya dengan bentuk istirahat yang berlawanan dengan jenis kelelahan tersebut.