unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Presiden Cornell Dukung Review Eksternal Kasus Dugaan Pemerkosaan Berjamaah
News

Presiden Cornell Dukung Review Eksternal Kasus Dugaan Pemerkosaan Berjamaah

Presiden Cornell Dukung Review Eksternal Kasus Dugaan Pemerkosaan Berjamaah
Presiden Cornell Dukung Review Eksternal Kasus Dugaan Pemerkosaan Berjamaah
A A Ukuran Teks16px

Presiden Cornell University Michael Kotlikoff menyatakan dukungannya terhadap review eksternal yang akan dilakukan firma hukum independen.

Review itu menyoroti seluruh aspek penanganan kampus terhadap kasus dugaan pemerkosaan berjamaah yang menimpa seorang mahasiswa pada 2024.

Dukungan tersebut disampaikan Kotlikoff melalui video yang dibagikan di situs resmi Cornell.

Ia menyebut insiden itu sebagai salah satu pekan tersulit dalam sejarah institusi.

Kasus ini pertama kali diungkap dalam gugatan perdata yang diajukan bulan lalu.

Penggugat mengklaim dirinya dibius dengan ketamin, diserang, dan diperkosa oleh tujuh anggota persaudaraan Chi Phi.

Chi Phi merupakan klub sosial untuk mahasiswa pria.

Gugatan tersebut memicu kemarahan publik terhadap Cornell dan jaksa New York karena tidak mengajukan tuntutan pidana pada 2024.

Investigasi Kriminal Dibuka Kembali

Investigasi kriminal atas dugaan pemerkosaan berjamaah itu dibuka kembali pada Senin.

Gubernur New York Kathy Hochul menunjuk Jaksa Agung Letitia James untuk memimpin penyelidikan.

Hochul mengkritik jalannya investigasi awal terhadap klaim pelapor di Cornell.

Menurut Hochul, korban telah memberikan keterangan yang sangat jelas kepada polisi.

Kotlikoff menyatakan kampus mendukung keputusan membuka kembali investigasi pidana.

Namun, ia menegaskan Cornell tidak akan menunggu investigasi atau review selesai sebelum mengambil tindakan.

Kampus akan terus mengambil langkah yang diperlukan untuk menangani masalah ini.

Setelah tuduhan mencuat, Cornell menutup persaudaraan Chi Phi dan sementara menangguhkan mahasiswa yang diduga terlibat.

Beberapa di antaranya kemudian dikeluarkan.

Otoritas setempat menyatakan tidak menuntut secara pidana pada 2024 karena keterangan pelapor dinilai tidak membuktikan tidak adanya persetujuan.

Sementara itu, ribuan perempuan Amerika menyuarakan dukungan bagi korban di media sosial.

Dukungan muncul setelah seorang komentator politik mengancam akan mengungkap identitas korban.

Pesan dukungan dengan tagar #IAmJaneDoe membanjiri TikTok, X, dan Instagram.

Banyak pengguna mengaku sebagai korban untuk mempersulit identifikasi.

Sejumlah media AS membandingkan gelombang dukungan daring ini dengan gerakan #MeToo pada 2017.

Menurut studi 2020 terhadap 33 institusi oleh Association of American Universities, satu dari empat mahasiswi melaporkan kontak seksual paksa atau tanpa persetujuan.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru