unique visitors counter
⌂ Beranda › News › IHSG Ditopang Rupiah dan Saham Energi, Ditutup ke 6.036,89
News

IHSG Ditopang Rupiah dan Saham Energi, Ditutup ke 6.036,89

Ilustrasi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di bursa saham
IHSG Ditopang Rupiah dan Saham Energi, Ditutup ke 6.036,89
A A Ukuran Teks16px

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,46 persen atau naik 27,39 poin ke level 6.036,89 pada perdagangan Jumat (2/10/2026).

Laju indeks disokong kenaikan nilai tukar rupiah dan kinerja positif saham sektor energi.

Head of Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, memperkirakan IHSG berpeluang melanjutkan tren positif pada Senin (5/10/2026).

Rentang support diperkirakan di 5.973 dan resistance di 6.118.

Saham batu bara menjadi pendorong utama di tengah kenaikan yield US Treasury.

Pergerakan indeks dipengaruhi rilis data Non-Farm Payrolls (NFP) Amerika Serikat, yield US Treasury, serta negosiasi harga minyak dunia antara AS dan Iran.

Investor disarankan mencermati saham GGRM pada rentang Rp17.575-Rp18.250, ISAT Rp2.400-Rp2.480, dan NCKL Rp880-Rp905.

Tekanan Arus Modal Asing dan Proyeksi Analis

Analis Republik Investor, Hendra Wardana, menilai tekanan pasar modal dipicu arus dana keluar investor asing yang mencapai Rp108 triliun secara year to date.

Kondisi itu mencerminkan krisis kepercayaan terhadap kepastian kebijakan dan prospek ekonomi nasional.

"Tekanan IHSG saat ini merupakan kombinasi faktor eksternal dan domestik.

Yield US Treasury yang masih tinggi membuat aset dolar AS relatif lebih menarik sehingga dana global cenderung bertahan di pasar AS atau mengurangi eksposur ke emerging market," ujar Hendra.

Kenaikan harga minyak dan pelemahan rupiah yang mendekati Rp18.000 per dolar AS turut memperbesar risiko inflasi.

Kendati demikian, peluang technical rebound tetap terbuka menuju rentang 6.300-6.600 jika penjualan asing mereda dan kinerja emiten kuartal III solid.

Jika terjadi pembalikan arus dana asing dan penurunan yield US Treasury, indeks diperkirakan menguji level 6.700-6.800.

Sebaliknya, indeks berisiko kembali ke area 5.800-6.000 apabila rupiah bertahan di atas Rp18.000 dan harga minyak melonjak.

Hendra merekomendasikan strategi speculative buy untuk saham ANTM dengan target Rp3.350 dan TINS target Rp4.900.

Sementara itu, strategi buy on weakness disarankan untuk SSIA pada Rp1.620-Rp1.650 dan SRTG pada Rp1.680-Rp1.700.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menyebut indikator teknikal stochastic telah membentuk pola golden cross di area oversold.

Penambahan NFP AS sebesar 29.000 yang berada di bawah proyeksi turut menekan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.

"Ini bisa meningkatkan optimisme market. VIX Index saja turun 6,6% menjadi 15,31.

Sentimen eksternal ini bagus bagi IHSG, terutama bagi saham-saham growth dan emiten yang sensitif terhadap suku bunga," ujar Nafan.

Nafan memproyeksikan rentang support IHSG berada pada level 5.973 dan 5.851, dengan resistance di 6.180 dan 6.335.

Investor disarankan melakukan accumulative buy pada saham ASII target Rp4.780, ESSA target Rp640, serta SMGR target Rp1.585.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru