Kebiasaan bangun sebelum fajar untuk mengejar jam tambahan pengembangan diri perlahan ditinggalkan sebagian anak muda Korea Selatan.
Sebagai gantinya, muncul tren kesehatan yang disebut sleep maxxing, yaitu upaya sistematis memperbaiki kualitas tidur.
Istilah ini menggabungkan kata sleep dengan maxxing, bahasa gaul internet untuk memaksimalkan atau mengoptimalkan sesuatu.
Berbeda dari sekadar tidur lebih lama, pengikut tren ini mengatur kebiasaan harian hingga lingkungan kamar agar tidur lebih nyenyak.
Tren miracle morning yang mendorong orang bangun pagi untuk berolahraga, belajar, dan mengembangkan diri pernah menyapu Korea.
Kini tren yang berlawanan justru menarik perhatian generasi muda.
Rutinitas dan Perangkat Pendukung Tidur
Kang, pekerja kantoran berusia 30 tahun, termasuk yang bersedia mengeluarkan uang demi tidur lebih baik.
Smartwatch melacak total waktu tidur dan proporsi tidur dalam, sementara suplemen menjadi bagian rutinitas untuk relaksasi.
Masker tidur dan penyumbat telinga juga menjadi kebutuhan wajib sebelum tidur.
Kang mengaku sering kelelahan tetapi justru sulit tidur begitu berbaring di kasur.
Karena tidak bisa mengurangi jam kerja, ia berusaha mengelola waktu tidurnya dengan baik.
Jung Hye-won, 31 tahun, karyawan perusahaan teknologi informasi, mengembangkan rutinitas tidurnya sendiri.
Setelah mandi sepulang kerja, ia meredupkan lampu dan membaca e-book alih-alih memegang ponsel.
Saat mata lelah, ia memakai masker mata uap, dan ketika badan kaku ia menggunakan alat pijat untuk relaksasi.
Menjelang tidur, ia menyemprotkan wewangian pemicu kantuk pada seprai.
Jung menyamakan kebiasaannya dengan pemanasan sebelum berolahraga, memberi sinyal pada tubuh bahwa waktunya tidur.
Sleep maxxing lebih menekankan seberapa baik kualitas tidur daripada seberapa lama durasinya.
Bagi sebagian pengikutnya, tidur menjadi sesuatu yang diukur, dianalisis, dan dioptimalkan.
Park, 35 tahun, yang mengalami masalah tidur setelah berhenti bekerja setahun lalu dan baru mendapat pekerjaan baru, memulai pagi dengan memeriksa skor tidur di smartwatch.
Perubahan gaya hidup, termasuk berhenti mengonsumsi kafein, dilakukan satu per satu untuk melihat pengaruhnya terhadap skor tersebut.
Park mengelola kualitas tidurnya secara konsisten karena khawatir tidur buruk mengganggu jadwal keesokan hari.
Dari Budaya Kurang Tidur ke Investasi Istirahat
Maraknya sleep maxxing menandai pergeseran di masyarakat yang lama mengaitkan kurang tidur dengan kerja keras dan ambisi.
Ungkapan Korea yang kurang lebih berarti kamu bisa tidur setelah mati mencerminkan sikap yang menganggap tidur sebagai waktu yang bisa dipakai bekerja, belajar, atau memperbaiki diri.
Di balik meningkatnya penghargaan terhadap istirahat, ada kelelahan kronis dan stres di kalangan anak muda Korea.
Menurut laporan Quality of Life of Youth 2025 dari badan statistik nasional Korea Selatan, 32,2 persen orang berusia 19 hingga 34 tahun mengalami burnout pada 2024.
Data Health Insurance Review and Assessment Service juga menunjukkan jumlah pasien yang menerima perawatan medis untuk gangguan tidur naik dari 1,04 juta pada 2020 menjadi 1,3 juta tahun lalu.
Namun upaya menyempurnakan tidur bisa menimbulkan paradoks karena berusaha terlalu keras justru menjadi sumber stres baru.
Park mengaku langsung khawatir akan merasa buruk sepanjang hari ketika skor tidurnya rendah.
Terlalu memperhatikan skor membuatnya terobsesi dengan tidur.
Jung merasakan tekanan serupa, merasa cemas tidak akan tidur dengan baik jika melewatkan satu bagian saja dari rutinitasnya.
Pakar menilai perhatian yang meningkat pada tidur bisa positif, tetapi memperingatkan agar istirahat tidak diubah menjadi metrik performa lain.
Joo Eun-yeon, profesor neurologi di Samsung Medical Center, mengatakan tekanan untuk terus mengelola diri di tengah persaingan ketat kini meluas hingga ke tidur.
Semakin kuat pikiran bahwa Anda harus tidur dengan baik, semakin Anda bisa terjaga, yang justru mengganggu tidur.
Joo menyebut tidur secara alami bervariasi dari hari ke hari dan mengingatkan agar tidak terlalu cemas soal skor tiap malam.
Ia menekankan pentingnya menjaga ritme harian yang teratur daripada membiarkan diri terombang-ambing skor tidur.
Ironi sleep maxxing mungkin terletak pada upaya mengoptimalkan sesuatu yang justru paling mudah datang ketika orang berhenti mencoba mengendalikannya.
Bagi anak muda Korea yang dulu menyambut pagi sebagai kesempatan pengembangan diri, kini tidur pun menjadi hal yang harus diperjuangkan.
