unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Vega Tantang Infantino, Usung Reformasi dan Pemulihan FIFA
News

Vega Tantang Infantino, Usung Reformasi dan Pemulihan FIFA

Ramon Vega menantang Gianni Infantino di pemilu Presiden FIFA
Vega Tantang Infantino, Usung Reformasi dan Pemulihan FIFA
A A Ukuran Teks16px

Ramon Vega menyatakan kesiapannya menantang Gianni Infantino dalam pemilu Presiden FIFA yang dijadwalkan pada 18 Maret 2027 di Rabat, Maroko.

Langkah ini menambah dinamika persaingan, di mana Infantino sebelumnya disebut sebagai kandidat terkuat untuk melanjutkan kepemimpinannya.

Sejauh ini, baru Infantino dan Vega yang disebut siap berpartisipasi dalam pemilihan tersebut.

Sejumlah nama lain sempat dikaitkan dengan persaingan melawan Infantino, seperti Victor Montagliani, Sheikh Salman bin Ebrahim, dan Nasser Al Khelaifi.

Kehadiran Vega menambah warna dalam kontestasi tersebut.

Mantan bek Tottenham Hotspur itu merupakan pesepakbola berdarah Swiss yang juga pernah memperkuat Celtic dan Watford.

Setelah mengakhiri karier bermain pada 2004, Vega memiliki pengalaman di bidang keuangan.

Latar belakang tersebut, menurutnya, telah mempersiapkannya untuk mengabdi kepada sepak bola.

Dalam keterangannya kepada BBC, Vega menyampaikan bahwa pencalonannya diarahkan untuk melakukan pembaruan terhadap FIFA sekaligus memulihkan kepercayaan dalam keluarga sepak bola global.

Vega menjelaskan tujuan pencalonannya melalui pernyataan yang mengumumkan keikutsertaannya dalam pemilu Presiden FIFA.

"Saya mencalonkan diri untuk menyatukan kembali keluarga sepak bola global, mewujudkan reformasi yang tulus dan berkelanjutan, memodernisasi FIFA untuk abad ke-21, memulihkan stabilitas dan kredibilitas, serta membangun kembali kepercayaan yang sangat dibutuhkan oleh olahraga kita."

"Saya mencalonkan diri karena hidup saya telah mempersiapkan saya untuk mengabdi pada olahraga ini," kata Vega dalam sebuah pernyataan yang mengumumkan pencalonannya.

Vega juga menempatkan masyarakat dan seluruh pelaku sepak bola sebagai bagian penting dari olahraga tersebut.

Menurut dia, sepak bola tidak semestinya hanya berada dalam lingkup elite organisasi.

"Sepak bola bukan milik presiden, konfederasi, atau administrator. Sepak bola lebih besar dari posisi apa pun, individu mana pun, atau institusi mana pun."

"Ini adalah permainan rakyat dan milik semua orang: para pemain, pelatih, wasit, pendukung, sukarelawan, klub, liga, asosiasi, dan komunitas yang memberikan kehidupan pada sepak bola," paparnya.

Kritik Ramon Vega terhadap Tata Kelola FIFA

Dalam pencalonannya, Vega turut menyoroti kondisi tata kelola FIFA.

Ia menilai persoalan tersebut telah memengaruhi moral sepak bola dan membuat kepercayaan publik terhadap organisasi semakin terkikis.

Vega menyampaikan kritik tersebut sekaligus menyerukan penghentian konflik dalam administrasi sepak bola agar tidak terus berdampak kepada pihak yang terlibat langsung dalam olahraga.

"Kepemimpinan saat ini telah merusak moral sepak bola. Tata kelola yang lemah telah merusak kredibilitas FIFA dan mengikis kepercayaan di seluruh keluarga sepak bola global.

Kita harus menghentikan konflik ini agar tidak semakin memburuk."

Ia juga menilai perselisihan dalam administrasi tidak seharusnya merugikan pemain, pelatih, wasit, dan pendukung yang berada di berbagai belahan dunia.

"Pertarungan yang didorong oleh ego dalam administrasi sepak bola tidak boleh dibiarkan merugikan mereka yang paling penting: para pemain, pelatih, wasit, dan pendukung di seluruh dunia.

Mereka tidak bertanggung jawab atas konflik-konflik ini. Mereka pantas mendapatkan yang lebih baik," kata Ramon Vega.

Vega kemudian menawarkan perubahan menyeluruh sebagai arah pencalonannya.

Ia menggambarkan kondisi sepak bola dan FIFA sebagai situasi yang membutuhkan tindakan segera serta pembaruan mendasar.

"Sepak bola berada di ruang gawat darurat, dalam kondisi kritis. Kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi.

FIFA membutuhkan arah baru dan reformasi mendasar."

Menurut Vega, perubahan tersebut harus mencakup upaya menyatukan kembali keluarga sepak bola, memulihkan kepercayaan, menghadirkan stabilitas, dan memperbarui tata kelola FIFA.

"Kita harus menyatukan kembali keluarga sepak bola, memulihkan kepercayaan, membawa stabilitas, dan memodernisasi tata kelola FIFA. Ini membutuhkan perubahan yang tegas - bukan penyesuaian kosmetik," tutupnya.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru