unique visitors counter
⌂ Beranda › Lifestyle › 100 Tahun Braille Korea Dipamerkan, Kisah Bak Du-seong dan 6 Titik
Lifestyle

100 Tahun Braille Korea Dipamerkan, Kisah Bak Du-seong dan 6 Titik

Pameran 100 tahun braille Korea di National Museum of World Writing Systems, Incheon
100 Tahun Braille Korea Dipamerkan, Kisah Bak Du-seong dan 6 Titik
A A Ukuran Teks16px

Sebuah patung gajah tanpa belalai menyambut pengunjung di National Museum of World Writing Systems, Incheon.

Karya seniman Oum Jeong-soon berjudul "Elephant Without a Trunk no. 7" itu membuka pameran "From Dots to the World: 100 Years of Korean Braille".

Pameran ini menantang kebiasaan bahwa benda museum hanya untuk dilihat, bukan disentuh.

Kurator Gu Dan-bi mengatakan penjelasan sengaja dibuat minim agar pengunjung bisa merasakan pameran lewat sentuhan.

Pesan utamanya adalah "dunia yang bisa dibaca bersama oleh semua orang".

Pameran digelar bersama National Hangeul Museum dan Songam Braille Library untuk memperingati 100 tahun sistem braille Korea.

Dari Prancis ke Sistem Enam Titik

Kisah braille bermula di Prancis melalui "Essay on the Education of the Blind" karya Valentin Hauy pada 1786.

Buku itu dipinjamkan dari National Library of France dan berisi argumen pendidikan bagi penyandang tunanetra lewat huruf timbul.

Replika taktil buku tersebut memungkinkan pengunjung meraba huruf timbul dan alat bantu berhitung.

Namun, huruf timbul sulit ditulis sendiri oleh penggunanya.

Pameran menampilkan papan tulis abad ke-19 untuk melacak peralihan dari huruf timbul ke sistem 12 titik Charles Barbier.

Sistem itu kemudian disederhanakan Louis Braille menjadi format enam titik yang kini menjadi standar global.

Format tersebut memungkinkan pengguna tidak hanya membaca, tetapi juga menulis.

Peran Bak Du-seong di Era Kolonial

Terobosan braille Korea lahir pada masa pendudukan Jepang.

Bak Du-seong mulai mengajar siswa tunanetra di Jesaengwon, lembaga pendidikan pemerintah, pada 1913.

Ia menilai perlu ada alternatif Korea atas braille Jepang, ketika pendidikan bagi penyandang disabilitas lebih berfokus pada keterampilan kerja daripada literasi.

Bersama murid-muridnya, Bak menguji 12 rancangan sebelum menetapkan "Hunmaengjeongeum" pada 4 November 1926.

Nama itu berarti "bunyi yang tepat untuk pengajaran tunanetra", menggema "Hunminjeongeum" sebagai dokumen asli abjad Korea, Hangul.

Terpaut 480 tahun, keduanya membahas pertanyaan yang sama: siapa yang berhak mengakses baca dan tulis?

Gu menyebut bagan braille Korea yang tampak sederhana itu membutuhkan enam tahun penelitian.

Bak memilih rancangan yang paling mudah digunakan dengan tiga prinsip: memakai lebih sedikit titik, mudah dipelajari, dan menghindari kebingungan.

Bagan 1926 yang kini menjadi warisan budaya terdaftar nasional itu menempatkan konsonan secara vertikal dan vokal secara horizontal, dengan pola titik yang bersesuaian.

Draf tulisan tangan Bak memperlihatkan kerja di balik kesederhanaan tersebut.

Manuskrip "The Origins of Korean Braille" tahun 1946 menjelaskan abjad serta notasi matematika, kimia, musik, dan bahasa asing.

Diari Bak yang mencakup 1926 hingga 1949 mendokumentasikan pelajaran dan produksi buku pada masa itu.

Mesin pembuat pelat yang dioperasikan dengan pedal melubangi titik-titik pada logam sebelum mesin rol mereproduksinya di atas kertas.

Gu menegaskan Bak tidak berhenti pada penciptaan dan distribusi braille, tetapi juga berupaya memperbaiki persepsi tentang disabilitas dan masyarakat.

Perkembangan dan penyebaran braille Korea membuka peluang baru bagi penyandang tunanetra untuk belajar, bekerja, mencatat pikiran, dan berpartisipasi di masyarakat.

Salinan majalah mingguan "Chokbul" yang berarti "cahaya lilin" dari 1949 menunjukkan makna akses itu dalam praktik.

Majalah yang dibuat dari kertas buku kas bekas itu memungkinkan pembaca tunanetra mengikuti berita, termasuk detail pemakaman pemimpin kemerdekaan Kim Koo.

Pameran ini menjadikan aksesibilitas bagian dari desainnya.

Model taktil, pegangan tangan, dan tekstur kontras membantu pengunjung menjelajahi objek dan bernavigasi.

Pintu masuk melingkar berkarpet menandai bagian baru.

Informasi pameran tersedia dalam bahasa Korea, braille Korea, Inggris, dan Jepang, disertai interpretasi audio.

Pengunjung dapat menelusuri buku taktil, mencap nama mereka dalam braille, menggambar dari deskripsi lisan, dan meninggalkan pesan memakai slate dan stylus.

Gu berharap pengunjung merenungkan apa artinya bagi penyandang tunanetra dan orang awas membaca teks yang sama di dunia yang berpusat pada penglihatan.

Pameran gratis ini berlangsung hingga 14 Februari 2027.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru