unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Target Wearable Bisa Jadi Beban jika Dipaksakan, Dokter Ingatkan Risikonya
News

Target Wearable Bisa Jadi Beban jika Dipaksakan, Dokter Ingatkan Risikonya

Ilustrasi pengguna memeriksa target aktivitas pada jam pintar dan fitness tracker
Target Wearable Bisa Jadi Beban jika Dipaksakan, Dokter Ingatkan Risikonya
A A Ukuran Teks16px

Target aktivitas pada jam pintar dan fitness tracker memang membantu menjaga kebiasaan bergerak. Namun, pengguna perlu menyesuaikannya dengan kemampuan tubuh masing-masing.

Angka seperti jumlah langkah, durasi aktivitas, dan pencapaian target harian berguna untuk mengevaluasi aktivitas. Meski begitu, angka pada layar tidak bisa dijadikan satu-satunya ukuran kondisi kesehatan seseorang.

Dokter olahraga dr. Andhika Respati, Sp. KO, mengatakan target olahraga perlu disesuaikan dengan kondisi fisik serta kemampuan setiap orang.

Menurutnya, terlalu mengandalkan angka pada perangkat dapat menimbulkan ilusi bahwa seseorang sudah sehat hanya karena mencapai target tertentu.

Jenis aktivitas dan kondisi tubuh tetap perlu diperhatikan. Pencapaian angka tertentu juga tidak otomatis berarti kebutuhan olahraga telah terpenuhi.

Karena itu, data wearable lebih tepat digunakan sebagai informasi untuk menilai aktivitas, bukan sebagai patokan kesehatan tunggal.

Persaingan Tidak Sehat dan Kebutuhan Istirahat

Masalah lain muncul ketika target berubah menjadi persaingan dengan orang lain. Andhika menyebut dorongan membandingkan pencapaian secara berlebihan sebagai toxic competitiveness.

Dalam talkshow Beyond Basic Tracking: Gamified Habit Building di Jakarta, Rabu (7/10/2026), Andhika menyoroti kecenderungan tersebut.

Ia menyayangkan adanya persaingan yang tidak sehat di antara pengguna.

Ia menjelaskan bahwa orang yang baru memulai olahraga tidak bisa begitu saja menyamai capaian seseorang yang telah lama berlatih.

Pencapaian orang lain pada layar tidak semestinya menjadi alasan untuk memaksakan kemampuan tubuh.

Mengejar target secara terus-menerus juga dapat menjadi persoalan ketika tubuh sebenarnya membutuhkan pemulihan. Konsistensi latihan perlu berjalan bersama kemampuan tubuh untuk beristirahat.

Andhika mengatakan seseorang dapat berolahraga secara berlebihan meski merasa sedang mempertahankan konsistensi. Dari sisi klinis, kondisi itu justru tergolong berlebihan.

Pelatih kebugaran Arienda Sapari menekankan bahwa latihan sebaiknya dibuat realistis agar kebiasaan tersebut dapat dipertahankan dalam jangka panjang.

Menurutnya, latihan tidak perlu dipaksakan.

Arienda menilai keberhasilan latihan tidak hanya ditentukan oleh capaian tertinggi dalam satu hari. Yang lebih penting adalah seberapa konsisten kebiasaan itu bisa dipertahankan.

Target aktivitas pada wearable tidak harus dibuat seragam. Kondisi kesehatan, kemampuan fisik, dan jenis aktivitas dapat menjadi dasar untuk menentukan sasaran yang lebih sesuai.

Business & Product Director PT Prodia Digital Indonesia Andri Hidayat mengatakan target aktivitas pada U-Buddy dapat disesuaikan dengan kebutuhan pengguna setelah berkonsultasi dengan expert.

Andri menilai personalisasi juga diperlukan bagi pengguna dengan kondisi kesehatan tertentu. Sebab, kebutuhan aktivitas setiap orang tidak selalu sama.

Dengan target yang realistis dan sesuai kondisi tubuh, wearable dapat berfungsi sebagai alat bantu untuk membangun kebiasaan aktif.

Angka pada layar tidak perlu menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru