Hong Kong memperkuat posisinya sebagai penghubung modal di Asia Pasifik dengan mengedepankan konektivitas keuangan.
Langkah ini dibahas dalam diskusi antara Mari Pangestu dan Edward K Y Chen di The University of Hong Kong.
Pembahasan berlangsung saat Hong Kong menjalankan Five-Year Plan pertamanya dan bersiap menjadi tuan rumah pertemuan Menteri Keuangan APEC.
Pangestu, utusan khusus presiden Republik Indonesia untuk Perdagangan Internasional dan Kerja Sama Multilateral, serta Chen, profesor kehormatan di HKU Business School, membahas cara ekonomi Asia mempertahankan integrasi regional.
Menurut Pangestu, keunggulan Hong Kong dapat diperluas dari fungsi gerbang perdagangan menjadi penghubung pembiayaan, investasi, asuransi, pengelolaan aset, dan manajemen risiko.
Ia menyoroti kebutuhan modal di kawasan ketika rantai pasok Asia mengalami perubahan.
"Potensi sebenarnya terletak pada konektivitas keuangan yang dapat disediakan Hong Kong," ujar Pangestu.
Pangestu menyebut perusahaan China dan perusahaan berbasis China membangun basis produksi tambahan di Indonesia, Vietnam, dan India.
Kondisi itu membuka ruang bagi Hong Kong untuk membantu memfasilitasi investasi perusahaan China ke luar negeri.
Peran tersebut juga mencakup pembiayaan berkelanjutan, obligasi hijau, investasi infrastruktur, dan pembiayaan transisi.
Instrumen tersebut dinilai relevan dengan kebutuhan modal ASEAN untuk infrastruktur, transisi energi, serta peningkatan industri.
Diskusi di HKU menempatkan ketahanan ekonomi sebagai hasil kerja sama regional, bukan pengurangan keterhubungan.
Pangestu dan Chen menilai diversifikasi, kapasitas menghadapi guncangan, serta kerja sama perlu berjalan bersamaan.
Pangestu menyebut pendekatan itu sebagai "incrementalisme konstruktif", yakni mendorong kerja sama praktis sambil mempertahankan kerangka terbuka dan berbasis aturan.
Chen mengaitkan gagasan tersebut dengan konsep "regionalisme terbuka", yang menekankan integrasi regional tidak seharusnya berubah menjadi bentuk baru fragmentasi ekonomi.
Ketegangan geopolitik, perubahan rantai pasok, guncangan energi dan komoditas, transisi hijau, serta kecerdasan buatan telah menciptakan lingkungan ekonomi yang lebih kompleks dibandingkan satu dekade lalu.
Hong Kong juga mengejar keanggotaan RCEP, yang dipandang penting karena integrasi regional membutuhkan aturan dan institusi.
Pertemuan APEC yang akan berlangsung di Hong Kong dan Shenzhen menjadi salah satu platform untuk membahas perdagangan, investasi, keuangan, rantai pasok, dan keamanan ekonomi.
Tantangan Hong Kong adalah menghubungkan perusahaan dan kemampuan dari Greater Bay Area dengan pasar serta peluang investasi ASEAN.
Selain itu, Hong Kong perlu menyediakan perangkat keuangan untuk mengelola risiko pergerakan modal di kawasan.
