Hari Hangeul tahun ini menandai satu abad sejak para linguis dan aktivis kemerdekaan Korea mendeklarasikan Gagya Day pada Desember 1926.
Peringatan itu menjadi titik awal apa yang kemudian dikenal sebagai Hari Hangeul, yang kini diperingati setiap 9 Oktober.
Kim Ju-won, presiden Korean Language Society (KLS), menilai perjalanan Hangeul tidak berhenti pada pelestarian aksara.
Menurutnya, semangat yang sama kini meluas ke upaya membangun kedaulatan linguistik di era digital dan kecerdasan buatan (AI).
Warisan Budaya dan Peran Ju Si-gyeong
Ketika Raja Sejong dari Dinasti Joseon menciptakan Hunminjeongeum pada 1443, aksara Korea itu tidak langsung menggantikan karakter Tionghoa yang telah lama digunakan.
Selama berabad-abad, Hangeul cenderung dihindari oleh kaum aristokrat dan intelektual yang lebih memilih karakter Tionghoa.
Perubahan besar terjadi pada 1894 ketika Raja Gojong menetapkan Hangeul sebagai sistem tulisan resmi negara.
Tiga dekade kemudian, pada Desember 1926, sekelompok linguis dan aktivis kemerdekaan Korea berkumpul dan memproklamasikan Gagya Day.
Saat itu, nama Hangeul belum dikenal luas dan gagya merupakan bunyi awal bagi orang yang belajar alfabet tersebut.
Penetapan Gagya Day seabad lalu merupakan bagian dari gerakan kemerdekaan budaya dari pendudukan Jepang (1910-45).
Gerakan itu bertujuan menjaga semangat bangsa, memberantas buta huruf, dan membangkitkan kesadaran nasional.
Kim menyatakan Hangeul membantu meruntuhkan hierarki bahasa tertulis serta membangun identitas linguistik dan budaya Korea yang mandiri.
Dalam sejarah Hangeul, nama linguis Ju Si-gyeong (1876-1914), pendiri KLS, tidak bisa dilepaskan.
Kim menyebut jika Raja Sejong adalah pencipta Hangeul, Ju dapat dianggap sebagai pemulih atau pendiri perantara yang menghidupkan kembali aksara itu.
Ju berjasa memberi nama Hangeul seperti sekarang, meletakkan dasar tata bahasa Korea modern, dan melatih murid-murid yang kemudian menyusun kamus serta menstandarkan tata bahasa Korea.
Meski Raja Gojong resmi menetapkan Hangeul sebagai alfabet nasional pada 1894, bangsa Korea segera menghadapi agresi asing.
Ju hadir tepat saat dibutuhkan, giat meneliti dan mengedukasi publik tentang Hangeul sambil membina murid-murid yang melanjutkan karyanya.
Baru-baru ini, manuskrip Gukeo Munbeop (Tata Bahasa Korea) karya Ju tahun 1909 dan naskah asli Joseon-mal Keun Sajeon (Kamus Bahasa Korea) ditetapkan sebagai National Treasures.
Naskah kamus tersebut juga telah dinominasikan untuk masuk dalam UNESCO Memory of the World Register.
Kedaulatan Data dan Tantangan AI
Salah satu keunggulan Hangeul terletak pada kesederhanaannya.
Huruf-hurufnya dimodelkan langsung dari bentuk organ vokal manusia, dengan konsonan dikategorikan berdasarkan bentuk mulut dan lidah dasar.
Metodologi struktural itu disebut unik dalam sejarah linguistik global.
Dikembangkan lebih dari 580 tahun lalu, Hangeul merupakan sintesis total pengetahuan linguistik manusia yang diciptakan secara sengaja berdasarkan prinsip fonologi.
Kim menilai Hangeul memberi kontribusi luas bagi masyarakat Korea selama seabad terakhir.
Dengan struktur yang dirancang ilmiah dan mudah diakses, Hangeul membantu memberantas buta huruf dalam waktu relatif singkat dan mendemokratisasi akses pengetahuan.
Hangeul juga berperan penting dalam membangun sumber daya manusia yang dibutuhkan untuk industrialisasi dan menegakkan demokrasi.
Kim menambahkan warisan itu menjadi fondasi bagi budaya K-populer yang mendunia dan kepemimpinan Korea di bidang pengetahuan digital.
Ia menyebut Hangeul sebagai keajaiban ilmiah karena fondasi logisnya memungkinkan aksara itu menjembatani tradisi sejarah dengan lingkungan digital modern.
Bagi Kim, melestarikan Hangeul pada abad ke-21 bukan lagi sekadar melindungi bentuk tulisannya.
Seiring bahasa semakin menjadi data yang diproses AI, ia melihat tantangan baru muncul, yakni mengamankan data bahasa Korea dan memastikannya terwakili secara akurat dalam sistem AI.
Kim menegaskan bahwa membangun kumpulan data bahasa Korea berskala besar dan berkualitas tinggi merupakan tantangan paling mendesak.
Jika terlalu bergantung pada model Big Tech global, Korea berisiko kehilangan kemandirian teknologi.
Karena itu, ia menekankan perlunya memproses dan membangun korpus publik serta khusus yang tepat dan mencerminkan sejarah, budaya, dan pengetahuan akademik Korea.
Kim mengakui besarnya tantangan yang dihadapi Korea dalam mengamankan kedaulatan data secara lebih luas.
Ia menyebut ada 50 juta orang Korea yang menghasilkan data, sementara ratusan juta hingga miliaran orang menghasilkan data dalam bahasa Inggris.
Menurutnya, kesenjangan skala itu sangat besar.
Persoalannya bukan sekadar teknologi, melainkan juga linguistik.
Tanpa data bahasa Korea berkualitas tinggi yang memadai, bahasa itu bisa kurang terwakili dalam sistem yang semakin banyak digunakan untuk menghasilkan dan memproses informasi.
Hangeul dan bahasa Korea mengalami peningkatan popularitas global selama dua dekade terakhir.
Peningkatan itu didorong sebagian oleh ketenaran internasional musik, drama, film, gim, dan webtoon Korea.
Jumlah orang yang mempelajari bahasa Korea dan mengikuti tes kemahiran bahasa Korea juga meningkat di seluruh dunia.
Menurut National Institute of International Education yang mengelola Test of Proficiency in Korean (TOPIK), jumlah pendaftar TOPIK hampir dua kali lipat dari 223.000 pada 2021 menjadi 421.000 pada 2025.
Kim senang melihat perkembangan itu, tetapi tidak suka menyebutnya sebagai globalisasi Hangeul.
Ia menyatakan pihaknya sengaja menghindari istilah globalisasi Hangeul karena frasa itu dapat membawa nuansa imperialistis yang menyiratkan superioritas budaya.
Menurut Kim, budaya harus setara dan saling menguntungkan.
Karena itu, ia lebih mendukung istilah berbagi Hangeul.
Orang asing mempelajari Hangeul karena kecintaan pada budaya Korea.
Tujuannya adalah membagikan nilai ilmiah dan prinsip kreatif Hangeul agar pelajar global dapat terhubung mendalam dengan sejarah Korea.
Mengenai istilah baru, singkatan, dan bahasa gaul generasi muda, terutama di era digital dan AI, Kim menilainya sebagai evolusi bahasa yang dinamis.
Namun ia menekankan semua itu harus berdiri di atas fondasi pemahaman yang akurat.
Kim berharap generasi mendatang memahami prinsip ilmiah dan nilai demokratis Hangeul, serta bangga berkomunikasi dengan percaya diri kepada dunia.
