unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Harga Emas Dunia Naik 0,4 Persen setelah Sentuh Titik Terendah Dua Bulan
News

Harga Emas Dunia Naik 0,4 Persen setelah Sentuh Titik Terendah Dua Bulan

Harga Emas Dunia Naik 0,4 Persen setelah Sentuh Titik Terendah Dua Bulan
Harga Emas Dunia Naik 0,4 Persen setelah Sentuh Titik Terendah Dua Bulan
A A Ukuran Teks16px

Harga emas dunia kembali menguat pada akhir perdagangan Kamis (8/10/2026) waktu setempat atau Jumat (9/10/2026) pagi WIB.

Penguatan terjadi setelah logam mulia itu menyentuh level terendah dalam dua bulan.

Berdasarkan data perdagangan yang dikutip Reuters, harga emas di pasar spot naik 0,4 persen menjadi 4.126,78 dollar AS per troy ounce.

Emas berjangka AS untuk pengiriman Desember 2026 juga ditutup menguat 0,4 persen menjadi 4.157 dollar AS per troy ounce.

Pada perdagangan Rabu (7/10/2026), harga emas sempat mencapai titik terendah sejak 5 Agustus 2026.

Tekanan saat itu berasal dari penguatan dollar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury.

Dollar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun masih bertahan pada level tinggi selama dua sesi berturut-turut.

Kondisi tersebut mencerminkan tekanan pasar yang masih memengaruhi pergerakan harga logam mulia.

Kekhawatiran Utang Pemerintah AS dan Risalah The Fed

Ahli Strategi Komoditas WisdomTree, Nitesh Shah, menilai kenaikan imbal hasil obligasi berkaitan dengan kekhawatiran yang semakin meluas terhadap besarnya utang pemerintah AS.

Menurutnya, jika utang terus meningkat, emas sebagai aset yang berlawanan dengan mata uang fiat dan aset pemerintah kemungkinan akan lebih diminati.

Di sisi kebijakan moneter, risalah pertemuan The Fed bulan lalu memperlihatkan perbedaan pandangan di antara para pejabat mengenai alasan yang mendasari kemungkinan kenaikan suku bunga.

Sebagian pejabat ingin membatasi dampak kenaikan harga energi dan guncangan harga lainnya, sedangkan kelompok yang lebih hawkish mengkhawatirkan inflasi akibat peningkatan permintaan.

Shah menilai perbedaan pandangan tersebut membuat prospek kebijakan moneter belum pasti. Kondisi itu turut memengaruhi volatilitas pasar emas.

Gubernur The Fed Christopher Waller pada Kamis menyatakan bahwa kenaikan suku bunga tambahan kemungkinan masih diperlukan.

Namun, ia juga menyebut adanya fleksibilitas dalam menentukan kecepatan penyesuaian suku bunga, termasuk kemungkinan mempertahankan suku bunga pada Oktober.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Oktober sebesar 17 persen. Sementara itu, probabilitas kenaikan suku bunga pada Desember mencapai 81 persen.

Suku bunga yang lebih tinggi umumnya menekan daya tarik emas karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil bunga seperti sejumlah instrumen keuangan lainnya.

Risiko geopolitik juga meningkat di Selat Hormuz.

Menurut sejumlah sumber, kapal tanker menghadapi ancaman serangan dan intimidasi ketika melintasi jalur pelayaran tersebut untuk mengangkut pasokan penting, setelah Iran mengeluarkan peringatan baru mengenai pemblokiran kapal yang tidak memperoleh izin dari Teheran.

Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot turun 1,9 persen menjadi 58,98 dollar AS per ounce.

Sebaliknya, harga platinum naik 0,1 persen menjadi 1.637,41 dollar AS per ounce, sedangkan palladium menguat 0,1 persen menjadi 1.126 dollar AS per ounce.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru