unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Orang Tua Ajarkan Anak Kenali Risiko Berkendara Sejak Jadi Penumpang
News

Orang Tua Ajarkan Anak Kenali Risiko Berkendara Sejak Jadi Penumpang

Orang tua mengajak anak mengamati situasi lalu lintas untuk mengenali risiko berkendara
Orang Tua Ajarkan Anak Kenali Risiko Berkendara Sejak Jadi Penumpang
A A Ukuran Teks16px

Kemampuan mengenali bahaya di jalan menjadi bekal penting bagi anak sebelum mereka berkendara secara mandiri.

Orang tua perlu mengajarkan cara membaca situasi lalu lintas, memperkirakan potensi bahaya, dan menentukan tindakan yang tepat, bukan sekadar meminta anak menaati aturan.

Pemahaman tersebut dapat dibangun sejak anak masih menjadi penumpang.

Melalui pengamatan langsung dan diskusi sederhana selama perjalanan, anak bisa belajar bahwa kondisi lalu lintas dapat berubah sewaktu-waktu sehingga kewaspadaan perlu disertai kemampuan mengambil keputusan.

Keterlibatan aktif orang tua

Agus Sani, Head of Safety Riding Promotion Wahana, menekankan pentingnya keterlibatan aktif orang tua ketika memperkenalkan keselamatan berkendara.

Nasihat umum seperti meminta anak berhati-hati perlu disertai penjelasan mengenai kondisi yang harus diwaspadai.

Agus menyampaikan bahwa pembelajaran akan lebih bermakna jika anak diajak memahami keadaan di sekelilingnya secara langsung.

"Kita jangan hanya bilang 'hati-hati', tapi ajak anak melihat dan memahami situasi di jalan," ujar Agus kepada Kompas.

com, Rabu (7/10/2026).

Salah satu cara yang dapat diterapkan adalah mengajak anak mengamati persimpangan, pergerakan kendaraan, serta kemungkinan munculnya situasi berbahaya.

Orang tua dapat mengajukan pertanyaan agar anak terbiasa menilai keadaan, bahkan sebelum memiliki kesempatan mengendarai kendaraan sendiri.

Agus memberikan contoh pertanyaan yang bisa digunakan untuk membangun kebiasaan tersebut.

"Misalnya saat mendekati persimpangan, tanyakan, 'Menurut kamu di sini bahayanya apa?' atau 'Kalau kendaraan di depan tiba-tiba berhenti, apa yang harus dilakukan?'"

kata Agus.

Pertanyaan seperti itu membantu anak menghubungkan aturan lalu lintas dengan keadaan nyata.

Mereka tidak hanya mengingat ketentuan, tetapi juga berlatih mengenali kemungkinan bahaya dan mempertimbangkan respons yang sesuai.

Kondisi jalan dapat berubah dalam waktu singkat.

Kendaraan di depan mungkin mengerem tiba-tiba, kendaraan lain bisa datang dari area yang tidak terlihat, atau situasi lalu lintas dapat berubah ketika pengendara sedang melintas.

Karena itu, kebiasaan mengamati lingkungan dan memperkirakan risiko perlu diperkenalkan secara bertahap.

Anak diharapkan mampu mempertimbangkan keadaan di sekitarnya, bukan hanya bergantung pada hafalan peraturan ketika menghadapi situasi yang tidak terduga.

Selain melalui penjelasan, pendidikan keselamatan berkendara berlangsung lewat kebiasaan yang diperlihatkan orang tua setiap hari.

Jusri Pulubuhu, praktisi keselamatan berkendara sekaligus Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), menjelaskan bahwa anak dapat mempelajari perilaku berlalu lintas dengan mengamati orang dewasa di sekitarnya.

Menurut Jusri, orang tua perlu memahami cara berkendara yang benar sebelum memberikan pelajaran kepada anak.

Keteladanan menjadi bagian penting karena perilaku yang dilihat sejak kecil dapat terbawa ketika anak mulai berkendara secara mandiri.

Jusri menjelaskan pentingnya memastikan bahwa orang tua memiliki pemahaman yang memadai mengenai keselamatan di jalan sebelum mengajarkannya.

"Harus belajar dengan cara melihat orangtua berbicara atau berinteraksi di jalan raya. Apabila orang tua belum paham, jangan pernah mengajari sang anak," ujar Jusri.

Pengalaman anak selama perjalanan sehari-hari, termasuk ketika diantar ke sekolah, dapat membentuk pandangan mereka mengenai perilaku yang dianggap wajar.

Karena itu, tindakan orang tua di jalan perlu sejalan dengan aturan keselamatan yang ingin ditanamkan.

Penggunaan helm dan kepatuhan terhadap lampu lalu lintas merupakan contoh perilaku yang dapat diamati anak secara langsung.

Jika orang tua mengabaikan langkah keselamatan tersebut, anak berisiko meniru kebiasaan yang sama ketika berada di jalan.

Jusri mengingatkan bahwa perilaku orang tua dapat menjadi pelajaran yang membekas bagi anak, termasuk ketika tindakan tersebut melanggar aturan.

"Orangtuanya tidak pakai helm, anak nggak pakai helm. Orangtuanya nerobos lampu merah, si anak ada di situ.

Ini adalah pelajaran yang melekat bagi anak itu," kata Jusri.

Oleh sebab itu, pembelajaran mengenai risiko berkendara perlu mencakup penjelasan, pengamatan, dan contoh nyata.

Anak perlu mengetahui tindakan yang berbahaya sekaligus memahami situasi yang membuat tindakan tersebut berisiko bagi dirinya maupun pengguna jalan lainnya.

Menggunakan ponsel saat berkendara dan menerobos lampu merah, misalnya, bukan sekadar perilaku yang dilarang.

Anak juga perlu memahami bahwa tindakan tersebut dapat membahayakan keselamatan dirinya dan orang lain di jalan.

Pendekatan ini bertujuan membangun kemampuan anak untuk menghadapi kondisi lalu lintas dengan lebih siap.

Fokus pendidikan keselamatan bukan menimbulkan ketakutan terhadap jalan raya, melainkan membiasakan anak mengenali ancaman, memperkirakan perubahan situasi, dan memilih tindakan yang lebih aman.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru