Kecelakaan truk molen yang menabrak 12 orang di Jalan Cut Mutia, Rawalumbu, Kota Bekasi, Minggu (1/11/2026) sore, diduga berkaitan dengan rem blong.
Namun, pakar keselamatan berkendara menilai hilangnya kemampuan pengereman tidak selalu akibat kerusakan komponen.
Persoalan ini dapat bermula dari cara pengemudi mengoperasikan kendaraan, terutama saat melewati jalan menurun.
Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu menjelaskan bahwa pemahaman sistem pengereman kendaraan bermuatan berat sangat diperlukan.
Penggunaan rem kaki secara tidak tepat dapat meningkatkan temperatur komponen hingga memicu overheating dan brake fading.
Brake fading adalah kondisi ketika kemampuan rem menurun akibat panas berlebihan.
Dalam keadaan tersebut, daya cengkeram sistem pengereman dapat menghilang mendadak meskipun pedal rem masih terasa tinggi ketika diinjak.
Risiko ini terutama mengintai kendaraan logistik dan truk bermuatan berat yang menggunakan rem utama secara berlebihan.
Teknik pengereman yang hanya mengandalkan injakan pedal tanpa memahami fungsi perangkat pendukung dapat mempercepat peningkatan suhu.
Jusri menyebut kebiasaan mengoperasikan rem tanpa teknik yang benar menjadi salah satu faktor penting di balik kejadian rem blong.
"Sebenarnya rem blong itu kontributor dari perilaku yang salah dari pengemudi," ujar Jusri kepada Kompas. com, Selasa (3/11/2026).
Ia menambahkan kurangnya pemahaman membuat teknik pengereman dilakukan asal injak sehingga gampang mengalami overheating dan brake fading.
Fungsi Rem Tambahan dan Teknik Turunan
Karena itu, kendaraan berat tidak seharusnya hanya mengandalkan service brake atau rem kaki utama.
Sistem pengereman tambahan diperlukan untuk membantu mengendalikan kecepatan sekaligus mengurangi tekanan kerja pada rem utama.
Salah satu perangkat pendukung yang dapat digunakan adalah auxiliary brake, yang mencakup teknologi seperti exhaust brake dan retarder.
Perangkat ini membantu memperlambat laju kendaraan tanpa membebani rem utama secara berlebihan.
Jusri menegaskan fungsi auxiliary brake bukan untuk menghentikan kendaraan secara mendadak, melainkan mengurangi beban kerja service brake agar tidak panas.
Selain memanfaatkan perangkat pengereman tambahan, pengemudi perlu memperhatikan waktu ketika mengurangi kecepatan.
Perlambatan sebaiknya dilakukan sebelum kendaraan memasuki jalan menurun, bukan ketika truk sudah berada di bagian curam.
Menurut Jusri, momentum kendaraan perlu dikendalikan sejak posisi truk masih berada di puncak jalan.
Pengemudi harus menyesuaikan tingkat kecepatan dengan memilih gigi transmisi lebih rendah sebelum mulai menuruni jalur tersebut.
Setelah perpindahan gigi dilakukan, exhaust brake atau retarder dapat dimanfaatkan untuk membantu mempertahankan kendali kendaraan.
Kombinasi teknik tersebut mengurangi ketergantungan terhadap rem kaki selama perjalanan menurun.
"Perlambatan itu tidak dilakukan pas lagi turun, tapi pas mau turun di puncaknya," kata Jusri.
Kesalahan yang perlu dihindari adalah baru menggunakan rem kaki secara intensif ketika truk sudah melaju di jalan menurun.
Dalam situasi tersebut, beban pengereman dapat meningkat tajam karena kendaraan harus menahan laju sekaligus menghadapi momentum inersia.
Gesekan yang terus berlangsung dapat menghasilkan panas tinggi pada komponen rem.
Apabila kondisi tersebut menyebabkan permukaan pengereman kehilangan daya cengkeram, kemampuan kendaraan untuk memperlambat laju akan semakin berkurang.
Akibatnya, pedal rem dapat terasa kosong ketika diinjak dan kendaraan berisiko terus meluncur tanpa kendali.
Peristiwa kecelakaan truk molen di Bekasi memperlihatkan pentingnya pemahaman teknis dalam mengoperasikan kendaraan berat.
Penguasaan penggunaan service brake, auxiliary brake, pemilihan gigi rendah, serta pengaturan kecepatan sebelum turunan merupakan aspek yang ditekankan Jusri untuk mencegah brake fading.