unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Emas Dunia di Titik Terendah, Nailul Huda Sebut Kenaikan Tipis
News

Emas Dunia di Titik Terendah, Nailul Huda Sebut Kenaikan Tipis

Emas Dunia di Titik Terendah, Nailul Huda Sebut Kenaikan Tipis
Emas Dunia di Titik Terendah, Nailul Huda Sebut Kenaikan Tipis
A A Ukuran Teks16px

Harga emas dunia melemah hingga menyentuh level terendah dalam dua bulan pada Rabu (7/10/2026).

Pelemahan ini dipicu oleh penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang mengurangi daya tarik logam mulia.

Di pasar spot, harga emas turun 1,2 persen menjadi 4.113,89 dollar AS per troy ounce.

Posisi tersebut merupakan yang terendah sejak 5 Agustus 2026, meskipun harga emas mulai menguat menjelang akhir pekan.

Ekonom sekaligus Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, menilai pelemahan permintaan dari bank sentral menjadi salah satu faktor utama yang menekan harga.

Menurutnya, antusiasme masyarakat yang sebelumnya didorong tren fear of missing out (FOMO) juga telah kembali ke tingkat normal.

"Akibatnya, tidak ada kondisi yang membuat harga emas meningkat kembali," ujar Nailul Huda kepada Kompas. com, Jumat (9/10/2026).

Nailul menilai kenaikan harga emas secara tajam masih mungkin terjadi apabila muncul permintaan besar dari institusi di luar kelompok pembeli yang selama ini mendominasi pasar.

Namun, ia memperkirakan peluang terulangnya lonjakan seperti tahun sebelumnya relatif kecil.

"Tapi peluangnya akan tipis untuk terjadi lagi," ujar Nailul Huda.

Ia memperkirakan pergerakan harga emas sepanjang 2026 akan lebih stabil dibandingkan periode kenaikan tajam sebelumnya. Pertumbuhan harga tahunan diperkirakan tetap berlangsung, tetapi dengan besaran yang terbatas.

"Artinya, pertumbuhan akan tetap ada secara tahunan, tapi dalam rentang yang tipis," ujar Nailul Huda.

Menurut Nailul, pergerakan harga emas sangat bergantung pada keseimbangan permintaan dan penawaran di pasar global.

Saat permintaan melemah, tekanan terhadap harga meningkat karena tidak ada dorongan pembelian yang cukup kuat untuk menopang kenaikan.

Ia juga menilai kenaikan tajam pada periode 2024 hingga awal 2026 merupakan kondisi yang tidak biasa.

Sebelumnya, harga emas meningkat secara lebih bertahap sebelum mengalami lonjakan signifikan dalam waktu relatif singkat.

"Sebenarnya, saya rasa anomali terjadi bukan ketika harga melemah seperti saat ini, tapi ketika ada kenaikan tajam di periode 2024-2026 awal," ujar Nailul Huda.

Dalam kurun waktu kurang dari dua tahun, harga emas yang sebelumnya sekitar Rp 1,5 juta per gram meningkat hingga hampir Rp 3 juta per gram.

Nailul mengaitkan kenaikan tersebut dengan pembelian emas dalam jumlah besar oleh bank sentral untuk memperkuat cadangan domestik di tengah ketidakpastian ekonomi global dan tren suku bunga tinggi.

Pembelian institusional tersebut turut mendorong kenaikan harga emas global.

Selain itu, Nailul menjelaskan bahwa lonjakan minat masyarakat ikut menambah tekanan permintaan dan membuat pergerakan harga semakin sulit diprediksi.

"Selain itu, ada ekses demand yang ditimbulkan dari FOMO oleh masyarakat. Akibatnya, harga emas semakin tidak dapat diprediksi," ujar Nailul Huda.

Sementara itu, berdasarkan informasi laman resmi Logam Mulia, harga emas Antam ukuran 1 gram tercatat Rp 2.572.000 pada Jumat (9/10/2026) pukul 10.00 WIB.

Pada hari yang sama, harga emas Galeri 24 ukuran 1 gram naik Rp 11.000 menjadi Rp 2.516.000 dari sebelumnya Rp 2.505.000 per gram.

Harga emas UBS ukuran 1 gram juga naik Rp 10.000 menjadi Rp 2.539.000 per gram dari posisi sebelumnya Rp 2.529.000 per gram, berdasarkan data harga yang dikutip Kompas.

com.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru