Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Jumat, 9 Oktober 2026, dengan penguatan 1,04 persen ke level 6.093,76 di Bursa Efek Indonesia.
Kenaikan itu terjadi setelah indeks tertekan tajam pada hari sebelumnya akibat gejolak pasar global, lonjakan harga minyak, dan ketidakpastian kebijakan suku bunga.
Data perdagangan BEI menunjukkan IHSG bertambah 62,48 poin, sementara indeks LQ45 naik 8,03 poin atau 1,35 persen ke posisi 601,67.
Seluruh 11 sektor saham berakhir di zona hijau, dipimpin sektor industri yang naik 1,79 persen, disusul barang baku 1,59 persen, dan infrastruktur 1,26 persen.
Aktivitas perdagangan tercatat 1,41 juta transaksi dengan volume 37,53 miliar saham senilai Rp9,91 triliun.
Sebanyak 407 saham menguat, 245 saham melemah, dan 311 saham tidak berubah.
Ketahanan Pasar Domestik di Tengah Tekanan Global
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menilai pergerakan indeks memperlihatkan ketahanan pasar domestik meski tekanan eksternal belum mereda.
"IHSG jelang akhir pekan menguat di tengah tekanan eksternal. Penguatan tampaknya memberikan gambaran akan resilience dalam negeri terjaga di saat tekanan global," ujar Nico Demus.
Sebelumnya, pada Kamis, 8 Oktober 2026, IHSG turun 1,88 persen ke level 6.031,28.
Investor asing mencatatkan jual bersih Rp867,27 miliar, sementara kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi pemerintah menambah tekanan terhadap aset keuangan domestik.
Harga minyak Brent pada Kamis naik 3,92 persen menjadi US$104,13 per barel.
Pada hari yang sama, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) bertenor 10 tahun meningkat menjadi 7,236 persen, sedangkan rupiah melemah 0,08 persen ke Rp17.888 per dolar AS.
Pada pembukaan Jumat, IHSG sempat berada di level 6.039,01 atau naik 0,13 persen dari penutupan sebelumnya.
Rupiah kemudian menguat menjadi Rp17.885 per dolar AS pada perdagangan pagi.
Perubahan sentimen global turut dipengaruhi perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran.
Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak akan menyerang Iran sebelum pemilihan paruh waktu pada 3 November 2026, dengan alasan adanya pembicaraan produktif dengan Teheran.
Meski rencana serangan ditunda, AS tetap mempertahankan blokade laut terhadap Iran dan menegaskan penolakannya terhadap kepemilikan senjata nuklir oleh negara tersebut.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah masih menjadi perhatian pasar karena berpotensi mengganggu pasokan energi dan mempertahankan tekanan harga minyak.
Sentimen lain datang dari sektor kecerdasan buatan, ketika kekhawatiran mengenai prospek pendapatan OpenAI memicu keraguan investor terhadap potensi pengembalian investasi industri AI dan menekan saham teknologi AS.
Pasar juga menantikan hasil pembicaraan perdagangan antara China dan Uni Eropa di Beijing di tengah perselisihan mengenai defisit perdagangan dan pembatasan ekspor mineral penting.
Dari dalam negeri, survei Bank Indonesia menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) September 2026 berada di level 118,1, masih di atas ambang optimistis 100.
Angka tersebut turun dari 118,5 pada Agustus, tetapi tetap menunjukkan konsumen secara keseluruhan mempertahankan keyakinan terhadap kondisi ekonomi.
Bank Indonesia juga mencatat Indeks Penjualan Riil tumbuh 1,3 persen secara tahunan, meningkat dibandingkan pertumbuhan 1,1 persen pada Juli 2026.
Menurut Nico Demus, kondisi tersebut mencerminkan ketahanan ekonomi, meskipun keberlanjutan daya beli masih menjadi perhatian pelaku pasar.
"Hasil survei tersebut memberikan gambaran kondisi ekonomi yang resilien namun demikian tentunya pasar berharap pada pemangku kepentingan jika tidak di jaga di Kelola dengan baik daya beli masyarakat.
Pasar kuatir akan terjadi divergensi antara persepsi kondisi saat ini dan ekspektasi masa depan," ujar Nico Demus.
Di pasar regional, indeks Nikkei Jepang naik 0,15 persen ke 69.144,00, Shanghai menguat 0,05 persen ke 3.813,79, dan Hang Seng Hong Kong melonjak 1,79 persen ke 24.211,35.
Sebaliknya, indeks Straits Times Singapura turun 0,16 persen ke 5.404,50, sedangkan Kospi Korea Selatan tidak diperdagangkan karena libur nasional Hangul Day.
