Ekspansi melalui akuisisi dan integrasi usaha menjadi strategi sejumlah bank asing untuk memperbesar jangkauan bisnis di Indonesia.
Langkah ini dilakukan untuk memperluas basis nasabah, meningkatkan skala operasional, dan memanfaatkan potensi pasar domestik.
Sejumlah langkah korporasi dilakukan oleh PT Bank DBS Indonesia, PT Bank Danamon Indonesia Tbk, MUFG Bank Ltd., dan PT Bank OCBC NISP Tbk.
Pada saat yang sama, HSBC Indonesia tetap berupaya mempertahankan pertumbuhan nasabah di tengah rencana pengalihan sebagian bisnisnya.
Langkah Korporasi DBS hingga MUFG Danamon
PT Bank DBS Indonesia (DBSI) telah resmi menguasai 99% saham PT DBS Vickers Sekuritas Indonesia (DBSVI), sehingga menjadi pemegang saham pengendali perusahaan sekuritas tersebut.
Transaksi yang diumumkan pada awal September lalu itu merupakan bagian dari pembentukan Konglomerasi Keuangan DBS di Indonesia.
Dalam struktur tersebut, DBSI menjalankan fungsi sebagai Perusahaan Induk Konglomerasi Keuangan (PIKK) Operasional.
Sementara itu, PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) dan MUFG Bank Ltd. memperkenalkan usulan nama serta logo bagi bank hasil integrasi kedua entitas, yaitu PT Bank MUFG Danamon Tbk.
Nama baru tersebut belum dapat digunakan secara efektif karena masih memerlukan persetujuan pemegang saham, kementerian terkait, dan regulator.
Pemberlakuannya akan dilakukan setelah proses integrasi dinyatakan efektif.
OCBC Siapkan Pengalihan Bisnis HSBC Indonesia
Langkah konsolidasi lainnya dilakukan PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP), yang sedang mempersiapkan pengambilalihan aset dan liabilitas bisnis retail banking serta wealth management HSBC Indonesia.
Transaksi tersebut ditargetkan selesai pada kuartal II-2027.
Nilai aset kelolaan atau assets under management (AUM) yang akan dialihkan mencapai Rp 89,8 triliun.
Meski proses pengalihan bisnis sedang dipersiapkan, HSBC Indonesia tetap berusaha memperluas jumlah nasabah.
Fokus perusahaan selama masa transisi adalah mempertahankan kualitas layanan sekaligus memenuhi kebutuhan nasabah yang sudah ada.
Head of Marketing & Customer International Wealth and Premier Banking HSBC Indonesia Fransisca Arnan menjelaskan bahwa pemenuhan kebutuhan nasabah tetap menjadi perhatian utama perusahaan selama periode tersebut.
Salah satu pendekatan yang digunakan adalah penyelenggaraan program travel fair untuk nasabah premium.
Menurut Fransisca, kegiatan serupa selama ini turut mendukung pertumbuhan bisnis melalui pembukaan rekening dan pengajuan kartu kredit baru.
Pada pelaksanaan Januari 2026, nilai transaksi program tersebut meningkat 44,35% secara tahunan atau mencapai 43% di atas target awal bank.
Untuk penyelenggaraan Oktober 2026, HSBC Indonesia kembali menargetkan pertumbuhan transaksi melalui program serupa.
"Fokus kita selalu kepada nasabah, bagaimana caranya kita terus mengenali kebutuhan nasabah," ujar Fransisca, dikutip Minggu (11/10/2026).
Besarnya peluang bisnis di Indonesia menjadi salah satu pertimbangan bank asing dalam menentukan strategi ekspansi.
Indonesia Country Executive Bank of America Mira Arifin menilai, karakteristik pasar domestik memberikan ruang bagi pertumbuhan industri perbankan.
Jumlah penduduk yang besar, komposisi demografi yang relatif muda, serta masih adanya masyarakat yang belum memperoleh akses layanan perbankan merupakan faktor yang mendukung peluang tersebut.
Kondisi ini berbeda dengan situasi di sejumlah negara asal bank asing, termasuk Singapura dan Jepang, yang menghadapi tantangan berupa populasi menua.
Perbedaan karakteristik demografi tersebut mendorong lembaga keuangan dari negara-negara itu untuk mencari sumber pertumbuhan di pasar lain.
Menurut Mira, pengambilalihan bisnis yang sudah berjalan dapat mempercepat perluasan skala usaha.
Bank bisa memanfaatkan infrastruktur, jaringan, dan basis nasabah yang telah tersedia tanpa harus membangun seluruh operasional dari awal.
"Dengan mengakuisisi, bank memiliki platform yang lebih besar, jaringan yang lebih luas, lebih banyak nasabah, dan akses untuk menjangkau populasi yang lebih muda," jelasnya.
Selain peluang pertumbuhan, biaya operasional turut memengaruhi keputusan ekspansi bank asing.
Kegiatan perbankan memerlukan modal tambahan dan standar pengelolaan yang tinggi, sementara persaingan dengan bank domestik yang memiliki jaringan luas dapat meningkatkan beban bagi pelaku usaha.
Dalam kondisi tersebut, membangun bisnis secara mandiri berpotensi membutuhkan biaya lebih besar dibandingkan memanfaatkan entitas yang sudah memiliki jangkauan pasar.
Akuisisi dan integrasi dapat menjadi jalan untuk memperkuat skala operasional sekaligus memperluas layanan.
Mira juga menyoroti proses konsolidasi yang berlangsung dalam industri jasa keuangan Indonesia.
Kebutuhan untuk terus menambah modal dapat meningkatkan beban usaha, sehingga perusahaan perlu memperhatikan keseimbangan antara skala bisnis dan efisiensi operasional.
Perubahan struktur industri tersebut turut memengaruhi cara bank mempertahankan daya saing.
Kemampuan menjaga keberlangsungan usaha menjadi faktor penting ketika pelaku industri menghadapi tuntutan efisiensi dan konsolidasi.
"Persaingan akan sangat ditentukan oleh kemampuan bertahan, seiring dengan konsolidasi yang terus berlangsung," ujarnya.
Di tengah persaingan tersebut, bank asing memiliki peluang memperkuat posisi melalui integrasi layanan, penambahan nasabah, dan pemanfaatan jaringan yang telah tersedia.
Namun, strategi ekspansi tetap menuntut pengelolaan biaya yang efisien agar bisnis mampu bersaing di pasar Indonesia.