unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Investor Pilih SBR015T2, Penjualan Tenor Panjang SBR015T4 Baru 12,4%
News

Investor Pilih SBR015T2, Penjualan Tenor Panjang SBR015T4 Baru 12,4%

Ilustrasi investor memantau penawaran Surat Berharga Negara ritel seri SBR015
Investor Pilih SBR015T2, Penjualan Tenor Panjang SBR015T4 Baru 12,4%
A A Ukuran Teks16px

Minat investor terhadap Surat Berharga Negara ritel seri SBR015 masih terpusat pada tenor dua tahun.

Pada pekan kedua masa penawaran, penjualan SBR015T2 mencapai 34,1% dari kuota nasional, sedangkan SBR015T4 baru terserap 12,4%.

Data tersebut dilansir dari Investasi, memperlihatkan preferensi investor terhadap jangka waktu investasi yang lebih pendek. Masa penawaran SBR015 akan berakhir pada 22 Oktober 2026.

Platform Bibit mencatat penyerapan SBR015T2 sebesar 34,1% dari kuota nasional. Sementara itu, SBR015T4 yang memiliki tenor empat tahun baru mencatat penjualan sekitar 12,4%.

Gambaran serupa terlihat di Bareksa.

Pemesanan SBR015T2 berada di angka 34%, sedangkan SBR015T4 tercatat 12%, menunjukkan selisih minat yang cukup besar antara kedua tenor.

William, Head of PR & Corporate Communication Bibit. id, mengonfirmasi bahwa investor di platformnya lebih banyak memilih instrumen berjangka waktu lebih singkat.

Rasio pemesanan SBR015T2 dan SBR015T4 mencapai 4 banding 1.

Menurut William, pembeli SBR015 berasal dari kelompok usia yang beragam, terutama 25 hingga 50 tahun.

Selain jaminan negara, pertimbangan kondisi ekonomi nasional dan pergerakan pasar modal turut memengaruhi keputusan investasi.

"Ada juga karena investor mempertimbangkan kondisi ekonomi nasional dan pasar modal yang fluktuatif. Membeli SBR015 menjadi salah satu pilihan logis," ungkap William kepada Kontan, Senin (12/10/2026).

Selisih Kupon Dinilai Belum Cukup Menarik

Perbedaan tingkat kupon menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan investor saat menentukan tenor.

SBR015 menawarkan kupon mengambang dengan batas minimum atau floating with floor yang disesuaikan setiap 3 bulan.

Untuk SBR015T2, tingkat kupon minimal ditetapkan 6,75% p. a.

, sedangkan SBR015T4 menawarkan tingkat minimal 6,85% p. a.

Selisih kupon minimum kedua instrumen hanya 0,10 poin persentase.

Kepala Pusat Makro Ekonomi dan Keuangan INDEF, M. Rizal Taufikurahman, menilai kecenderungan investor memilih tenor pendek merupakan hal wajar.

Menurutnya, keputusan itu berkaitan dengan perbandingan antara tambahan imbal hasil dan lamanya dana ditempatkan.

"Tambahan kupon T4 yang hanya 0,10 poin persentase dibandingkan T2 relatif tipis untuk mengompensasi tambahan tenor dua tahun, terlebih instrumen ini tidak dapat diperdagangkan di pasar sekunder," jelas Rizal kepada Kontan, Senin (12/10/2026).

Keterbatasan perdagangan di pasar sekunder membuat investor perlu mempertimbangkan kebutuhan likuiditas sebelum menentukan tenor.

Dana yang ditempatkan tidak dapat dicairkan melalui penjualan di pasar sekunder sebagaimana instrumen yang dapat diperdagangkan.

Masa penawaran SBR015 berlangsung mulai 28 September 2026 hingga 22 Oktober 2026.

Dengan target penjualan nasional Rp 20 triliun, peningkatan penyerapan masih diperlukan agar pencapaian target tidak hanya bergantung pada lonjakan pemesanan menjelang penutupan.

Laju pembelian harian perlu menunjukkan percepatan nyata.

Mengandalkan sikap investor yang menunggu perkembangan pasar menjelang akhir masa penawaran dinilai belum cukup untuk memastikan target nasional tercapai.

Fitur kupon mengambang dengan batas minimum menjadi salah satu karakteristik yang dapat dipertimbangkan calon investor.

Namun, pemahaman terhadap keterbatasan likuiditas tetap penting dalam menentukan kesesuaian produk dengan kebutuhan keuangan masing-masing.

Mitra distribusi juga perlu memperkuat edukasi mengenai karakteristik SBR015, termasuk perbedaan tenor, tingkat kupon minimal, dan keterbatasan perdagangan di pasar sekunder.

Informasi menyeluruh diperlukan agar investor dapat menyesuaikan pilihan instrumen dengan profil dan kapasitas investasinya.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru