PT Pupuk Kalimantan Timur mengembangkan PLTS Atap berkapasitas 3,8 MWp di area operasional perusahaan di Bontang.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya mendukung energi baru terbarukan dan dekarbonisasi industri melalui pemanfaatan energi surya.
Pembangunan dilakukan secara bertahap di area nonpabrik dan pabrik yang terhubung dengan jaringan listrik lokal berbasis Gas Turbine Generator (GTG).
Kapasitas 3,8 MWp terdiri dari fase pertama 1,2 MWp dan fase kedua 2,6 MWp.
Kinerja dan Dampak Operasional
Menurut Pupuk Kaltim, sistem PLTS Atap memiliki availability factor 98 sampai 98,6 persen dengan produksi energi mencapai 4.723.458 kWh per tahun.
Direktur Manajemen Risiko Pupuk Kaltim Maslani menyampaikan bahwa pemanfaatan energi surya menjadi bagian dari transisi energi perusahaan.
"Melalui pemanfaatan PLTS Atap, kami berupaya membuktikan bahwa pengembangan energi bersih dapat berjalan beriringan dengan keandalan operasional industri," ujar Maslani.
Pada periode 2022–2025, implementasi PLTS Atap menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 10.702,38 ton karbon dioksida ekuivalen.
Perusahaan juga memanfaatkan energi terbarukan untuk mendukung operasional kendaraan listrik.
"Capaian ini menunjukkan bahwa energi surya dapat menjadi bagian dari sistem energi pendukung industri dengan tingkat ketersediaan yang tinggi," ujar Maslani.
Pupuk Kaltim mengembangkan integrasi energi surya dengan kebutuhan operasional, termasuk pengalihan penggunaan bus konvensional menjadi bus listrik.
Langkah tersebut menghemat BBM sebesar 3.945,46 liter dan menekan emisi 0,45 ton CO2.
"Bagi kami, pengembangan PLTS Atap tidak berhenti pada pemasangan panel surya.
Kami membangun ekosistem energi yang saling terhubung, mulai dari pembangkit, pemanfaatan energi untuk operasional, hingga dukungan terhadap kendaraan listrik," ujar Maslani.
Perusahaan juga mengintegrasikan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam strategi keberlanjutan.
Pupuk Kaltim melibatkan tenaga kerja lokal, memberikan pelatihan pengoperasian dan pemeliharaan, serta menerapkan PLTS di kawasan pesisir Bontang untuk mendukung permukiman nelayan.
"Dengan demikian, energi tidak hanya memberikan manfaat bagi operasional industri, tetapi juga membuka peluang peningkatan kompetensi, pemberdayaan masyarakat, dan pengembangan ekonomi lokal," ujar Maslani.
Kolaborasi dengan anak perusahaan Pupuk Indonesia Grup melalui skema Power Purchase Agreement (PPA) menghasilkan penghematan energi sekitar 20 persen atau setara 5.815.575 kWh.
Estimasi penghematan biaya operasional tahunan mencapai 29.800 dollar AS.
Pupuk Kaltim meraih ASEAN Energy Awards 2026 kategori On Grid atas pengembangan PLTS Atap.
Penghargaan tersebut diterima Maslani di Manila, Filipina, pada Rabu (7/10/2026).
"Penghargaan ini menjadi pengingat bahwa transformasi menuju industri yang lebih hijau membutuhkan konsistensi, inovasi, dan kolaborasi.
Pupuk Kaltim akan terus mengembangkan pemanfaatan energi terbarukan sebagai bagian dari strategi keberlanjutan Perusahaan," ujar Maslani.