Radja Nainggolan mengungkapkan penyesalan karena tidak pernah membela Timnas Indonesia selama karier profesionalnya.
Pernyataan itu muncul setelah ia melihat perkembangan sepak bola Indonesia dari sudut pandang yang berbeda.
Mantan gelandang AS Roma tersebut sebenarnya memenuhi syarat untuk memperkuat Indonesia.
Namun, saat masih aktif bermain, sepak bola Indonesia belum menjadi pilihan menarik baginya.
Pandangannya berubah setelah memiliki pengalaman bersama Bhayangkara FC.
Dari sana, ia mulai melihat atmosfer dan potensi sepak bola Indonesia secara lebih luas.
Radja kemudian menyampaikan rasa sesalnya karena tidak pernah mengenakan seragam Timnas Indonesia.
Sebelumnya, ia memilih membela Belgia dan mencatat 30 penampilan bersama De Rode Duivels.
Dukungan Suporter dan Peluang Ekonomi
Menurut Radja, dukungan suporter Indonesia menjadi salah satu hal yang membuatnya kagum.
Ia melihat antusiasme besar ketika Timnas Indonesia menghadapi Vietnam dan Irak.
Ia juga memperhatikan besarnya peluang ekonomi dalam sepak bola Indonesia.
Menurutnya, popularitas pemain dapat menjadi aset penting setelah karier profesional berakhir.
Radja menilai pemain Timnas Indonesia memiliki perhatian besar dari berbagai merek terkenal.
Kondisi tersebut menurutnya dapat memberikan manfaat bagi perjalanan karier pemain di masa depan.
Ia membandingkan situasi itu dengan pengalamannya setelah meninggalkan panggung internasional bersama Belgia.
Radja merasa akhir karier internasionalnya tidak berjalan seperti yang diharapkan.
Dalam wawancara dengan media Belgia, ia mengungkapkan pandangannya tentang dukungan publik dan peluang yang ada di Indonesia.
"Ada tujuh puluh ribu orang di sana untuk pertandingan melawan Vietnam atau Irak; begitulah fanatiknya mereka," ujar Radja Nainggolan dikutip dari Nieuwsblad.
"Uang juga bertebaran di sana. Para pemain bahkan disponsori oleh Louis Vuitton, Hublot, Rolex..."
"Sedangkan pemain internasional seperti Ivar Jenner hanya bermain untuk Jong Utrecht di sini."
Radja juga menyebut ketenaran yang didapat pemain di Indonesia dapat memberikan dampak untuk kehidupan setelah pensiun dari sepak bola.
"Ketenaran di sana, gembar-gembornya, untuk citra Anda, Anda juga dapat menggunakannya untuk masa depan ketika Anda berhenti bermain."
Pemain yang kini berusia 38 tahun itu mengatakan pemikirannya berubah dibandingkan ketika masih aktif memperkuat tim nasional.
"Saat itu, saya tidak memikirkan hal itu, tetapi sekarang saya berusia 38 tahun, saya melihat hal-hal secara berbeda."
Radja mengaitkan perubahan sudut pandangnya dengan perjalanan karier internasional yang pernah ia jalani bersama Belgia.
"Terutama ketika saya melihat karier internasional saya di sini dan bagaimana berakhirnya di bawah (Roberto) Martinez."
Ia merasa kesempatan membela Indonesia dalam waktu panjang bisa saja menjadi bagian lain dari perjalanan sepak bolanya.
"Saya bisa saja memiliki karier selama lima belas tahun sebagai pemain internasional Indonesia," imbuhnya.
Radja Nainggolan menyampaikan bahwa pengalaman bersama sepak bola Indonesia membuatnya memahami nilai besar dari dukungan publik, popularitas pemain, serta peluang yang tersedia di luar lapangan.
Meski pernah memilih Belgia sebagai negara yang dibelanya di level internasional, ia kini melihat Indonesia sebagai negara dengan gairah sepak bola yang kuat dan potensi yang besar.
