unique visitors counter
⌂ Beranda › News › SM+ Akuisisi Lima Pusat Data PDG, Jaringan Kini 31 Fasilitas di 25 Kota
News

SM+ Akuisisi Lima Pusat Data PDG, Jaringan Kini 31 Fasilitas di 25 Kota

Ilustrasi pusat data dan server digital
SM+ Akuisisi Lima Pusat Data PDG, Jaringan Kini 31 Fasilitas di 25 Kota
A A Ukuran Teks16px

PT SMPlus Digital Investama (SM+) menandatangani perjanjian definitif untuk mengakuisisi bisnis pusat data milik Princeton Digital Group (PDG) di Indonesia pada Senin (12/10/2026).

Transaksi itu mencakup lima fasilitas yang telah beroperasi di Jabodetabek, Bandung, Surabaya, dan Pekanbaru.

Dengan penambahan tersebut, jaringan SM+ meluas menjadi 31 fasilitas yang tersebar di 25 kota.

Lima pusat data yang diakuisisi melayani kebutuhan perusahaan atau segmen enterprise.

SM+ menyatakan akan mengintegrasikan kelima fasilitas itu ke dalam platform operasional yang sudah dimiliki.

Perusahaan menargetkan peningkatan kualitas layanan serta pengembangan infrastruktur digital yang kapasitasnya dapat ditingkatkan sesuai kebutuhan pelanggan.

Tonggak Sejarah dan Fokus Hyperscale

Presiden Direktur sekaligus Group CEO SM+ Holdings, Herson Suindah, menyebut transaksi ini sebagai tonggak sejarah penting dalam perjalanan perusahaan membangun platform infrastruktur digital nasional.

Ia menjelaskan, penambahan lima fasilitas di Jabodetabek, Bandung, Surabaya, dan Pekanbaru memperluas jangkauan nasional sekaligus memperkuat kemampuan melayani pelanggan.

SM+ merupakan platform investasi infrastruktur dan layanan digital yang didukung Sinar Mas melalui PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA).

Sebelumnya, perusahaan juga mengumumkan kerja sama dengan Korea Selatan untuk membangun pusat data kecerdasan buatan bernama SMX01 di Jakarta.

Sementara itu, PDG mengarahkan fokus bisnisnya pada pengembangan pusat data berskala besar atau hyperscale.

Perusahaan asal Singapura itu mulai memasuki pasar Indonesia pada 2019 melalui akuisisi portofolio pusat data yang telah beroperasi.

CEO PDG, Rangu Salgame, menjelaskan strategi perusahaan mencakup pembangunan operasi di pasar baru, penguatan kemampuan layanan, dan perluasan bisnis hingga mencapai skala yang dibutuhkan pelanggan.

PDG telah mengembangkan kampus pusat data berskala besar dengan kapasitas total 400 MW yang mencakup JC2, JC3, dan JC4.

Fasilitas tersebut dirancang untuk memenuhi kebutuhan perusahaan teknologi berskala besar yang memerlukan kapasitas ruang dan daya tinggi.

Salgame menegaskan, pelepasan lima fasilitas itu tidak menandai penghentian investasi PDG di Indonesia.

Perusahaan berencana melanjutkan ekspansi untuk melayani pelanggan pusat data berskala besar di Indonesia dan kawasan Asia Pasifik.

Chief Operating Officer sekaligus Co-Founder PDG, Varoon Raghavan, menyatakan Indonesia tetap menjadi pasar penting bagi perusahaan sejak memasuki negara ini pada 2019.

Transaksi tersebut sejalan dengan penajaman fokus PDG pada pengembangan fasilitas pusat data berskala besar.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru