unique visitors counter
⌂ Beranda › Hiburan › Pemegang Obligasi Gugat Electronic Arts soal Utang Rp25 Triliun
Hiburan

Pemegang Obligasi Gugat Electronic Arts soal Utang Rp25 Triliun

Ilustrasi logo Electronic Arts dan sengketa utang akuisisi
A A Ukuran Teks16px

Electronic Arts (EA) menghadapi masalah finansial serius setelah merampungkan akuisisi bernilai fantastis.

Sejumlah investor pemegang obligasi lama menuduh perusahaan melanggar kontrak dan menuntut pelunasan utang lebih awal sebesar Rp25 triliun atau setara $1,4 miliar.

Langkah hukum itu memicu gejolak di kalangan pelaku industri dan komunitas gamer global, termasuk di Tanah Air.

Perselisihan ini berakar dari skema akuisisi EA senilai Rp974 triliun atau $55 miliar.

Skema Leveraged Buyout dan Badai Utang

Akuisisi tersebut melibatkan konsorsium investor global yang terdiri dari sovereign wealth fund Arab Saudi (PIF), Silver Lake, dan Affinity Partners.

Kesepakatan itu menggunakan porsi utang yang sangat masif.

Proses pengambilalihan EA tercatat sebagai aksi leveraged buyout (LBO) terbesar sepanjang sejarah industri hiburan interaktif.

Sekitar Rp354 triliun atau $20 miliar dari total nilai transaksi dibiayai melalui pinjaman dana segar.

Dalam mekanisme LBO, perusahaan dibeli menggunakan utang berbunga. Beban pembayaran pokok serta bunga utang tersebut kemudian ditimpakan langsung ke neraca keuangan perusahaan yang diakuisisi.

Masalah muncul bukan dari pinjaman baru untuk mendanai akuisisi, melainkan dari surat utang atau obligasi lama yang diterbitkan EA sebelum pengambilalihan terjadi.

Pemegang obligasi mengaktifkan klausul khusus yang menyatakan pergantian kepemilikan memberi hak bagi kreditur untuk meminta pengembalian dana lebih awal.

Investor menuntut pelunasan penuh sebesar Rp25 triliun atau $1,4 miliar ditambah premi pinalti sebesar 1 persen.

Siasat Manajemen EA dan Respon Kreditur

Manajemen EA menolak tuntutan pelunasan dini tersebut. Pihak perusahaan berkonsolidasi dan memilih menanggungkan obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) sebagai jaminan tambahan.

Manajemen berargumen bahwa penjaminan aset bernilai tinggi ini sudah cukup untuk menjamin pembayaran bunga tetap berjalan lancar hingga jatuh tempo awal.

Dengan begitu, klausa pelunasan dini dianggap tidak berlaku lagi.

Namun para kreditur menilai manuver tersebut sebagai upaya sepihak yang menyalahi kesepakatan awal kontrak.

Pemegang obligasi menegaskan bahwa penjaminan aset tidak serta-merta menghapus hak pelunasan saat struktur kepemilikan utama perusahaan berubah secara drastis.

Kepastian hukum mengenai perselisihan ini masih menggantung. Perkara berpotensi berlanjut ke meja hijau jika kedua belah pihak gagal mencapai titik temu.

Situasi ini menempatkan EA dalam posisi tertekan untuk menyeimbangkan beban finansial perusahaan dengan ekspektasi pengembangan judul-judul game utama mereka.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru