unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Terapi Berkuda Kurangi Hiperaktivitas Anak Autisme, Temuan Studi di Dua Pusat
News

Terapi Berkuda Kurangi Hiperaktivitas Anak Autisme, Temuan Studi di Dua Pusat

Anak menunggang kuda dalam sesi terapi berkuda untuk mengurangi hiperaktivitas
Terapi Berkuda Kurangi Hiperaktivitas Anak Autisme, Temuan Studi di Dua Pusat
A A Ukuran Teks16px

Terapi berkuda berpotensi menjadi pendamping perawatan bagi anak dengan autisme yang juga mengalami gangguan kejiwaan lain, terutama untuk membantu mengendalikan hiperaktivitas.

Temuan penelitian University of Colorado Anschutz, Amerika Serikat, menunjukkan aktivitas ini memberikan hasil lebih baik dalam mengurangi hiperaktivitas dibandingkan dua kelompok pembanding.

Penelitian yang didukung National Institutes of Health (NIH) tersebut diterbitkan dalam jurnal Pediatrics pada 9 Oktober 2026.

Selain menilai dampak menunggang kuda, para peneliti turut mengamati perubahan perilaku anak yang mengikuti kegiatan bertema kuda tanpa berinteraksi langsung dengan hewan hidup.

Studi ini melibatkan anak-anak dengan autisme yang memiliki diagnosis kejiwaan penyerta.

Para peserta dibagi menjadi tiga kelompok untuk membandingkan hasil terapi berkuda, kegiatan bertema kuda tanpa kontak langsung dengan hewan, dan kelompok daftar tunggu yang tidak menjalani kedua aktivitas tersebut selama penelitian.

Hasil pengamatan memperlihatkan bahwa kelompok yang mengikuti terapi berkuda mengalami penurunan hiperaktivitas lebih besar daripada kelompok kegiatan bertema kuda dan kelompok daftar tunggu.

Temuan ini menunjukkan adanya manfaat potensial dari aktivitas menunggang kuda bagi anak dengan kebutuhan tersebut.

Manfaat khusus menunggang kuda

Robin Gabriels, profesor psikiatri sekaligus psikolog klinis berlisensi di University of Colorado Anschutz dan Children's Hospital Colorado, menjelaskan bahwa menunggang kuda memiliki manfaat khusus dalam membantu anak yang mengalami hiperaktivitas.

"Ada sesuatu dari aktivitas menunggang kuda yang secara khusus bermanfaat bagi anak-anak dengan hiperaktivitas," kata Gabriels.

Ia juga menilai pendekatan berbantuan kuda dapat digunakan sebagai pelengkap perawatan yang telah dijalani anak dengan autisme dan hiperaktivitas.

"Bagi anak-anak dengan autisme dan hiperaktivitas, terapi berbantuan kuda mungkin menjadi cara yang baik untuk melengkapi perawatan yang sudah dijalani," ujar Gabriels.

Penelitian terbaru ini juga dirancang untuk memeriksa apakah manfaat yang ditemukan sebelumnya dapat muncul di lokasi berbeda.

Studi terdahulu yang dilakukan di Hearts & Horses, Colorado, telah menunjukkan manfaat terapi berkuda setelah delapan hingga 10 minggu.

Untuk pengujian berikutnya, penelitian dilaksanakan di Riding to the Top, dekat Windham, Maine, Amerika Serikat.

Pemilihan lokasi yang berbeda memungkinkan peneliti melihat apakah hasil studi sebelumnya dapat ditemukan kembali di pusat terapi berkuda lain.

Gabriels menjelaskan alasan dilakukannya pengujian tersebut dalam pernyataannya mengenai penelitian lanjutan.

"Kami ingin melihat apakah hasil yang kami temukan di Colorado dapat diulang di pusat berkuda lain di wilayah berbeda," ujar Gabriels.

Menurut Gabriels, kemunculan hasil yang serupa di kedua pusat tersebut merupakan perkembangan yang menggembirakan.

Meski demikian, temuan ini tetap perlu dipahami sesuai dengan cakupan penelitian yang dilakukan.

Manfaat yang diamati tidak terbatas pada anak yang menunggang kuda.

Kelompok lain yang mengikuti kegiatan bertema kuda tanpa berinteraksi langsung dengan hewan hidup juga memperlihatkan perubahan pada sejumlah aspek perilaku.

Dalam kegiatan tersebut, anak-anak mempelajari berbagai hal mengenai kuda dan menggunakan boneka kuda berukuran menyerupai aslinya.

Dibandingkan kelompok daftar tunggu, kedua kelompok aktivitas bertema kuda menunjukkan perbaikan dalam aspek mudah tersinggung, pengaturan emosi, dan fungsi sosial.

Menurut Gabriels, interaksi dengan kuda memberikan kesempatan bagi anak untuk melatih komunikasi dan pengendalian emosi melalui pengalaman yang berbeda dari kegiatan klinis pada umumnya.

Kuda dapat merespons bahasa tubuh, sehingga interaksi tersebut menjadi bagian penting dari pendekatan yang diteliti.

"Kuda dapat menerima anak dengan baik dan merespons bahasa tubuh.

Interaksi itu dapat memberi anak kesempatan untuk berlatih berkomunikasi, mengatur emosi, dan mengembangkan keterampilan lain dalam lingkungan yang sangat berbeda," ujarnya.

Walaupun hasil penelitian menunjukkan potensi manfaat, para peneliti mengingatkan bahwa respons setiap anak dengan autisme dapat berbeda.

Hasil studi tersebut tidak berarti seluruh anak dengan kondisi yang sama akan memperoleh perubahan perilaku serupa ketika mengikuti terapi berkuda.

Penelitian ini juga tidak membandingkan terapi berkuda dengan penggunaan obat-obatan.

Karena itu, hasilnya tidak dapat dijadikan dasar untuk menghentikan atau mengganti pengobatan yang telah diresepkan oleh tenaga kesehatan.

Orangtua yang ingin mempertimbangkan terapi berbantuan kuda perlu memperhatikan kebutuhan, kenyamanan, dan keamanan anak.

Pembahasan dengan tenaga kesehatan yang menangani anak juga diperlukan agar pendekatan tersebut dapat dipertimbangkan sebagai bagian dari perawatan yang sesuai.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru