Kinerja unitlink berbasis valuta asing dan rupiah menunjukkan perbedaan tajam hingga September 2026.
Data PT Infovesta Utama mencatat unitlink saham berbasis valuta asing membukukan rata-rata imbal hasil 4,18% secara year to date.
Sementara itu, produk berbasis domestik justru turun 15,76% pada periode yang sama.
Mayoritas Produk Valas Bertahan Positif
Head of Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana menyatakan mayoritas produk unitlink saham berbasis valuta asing mampu mempertahankan kinerja positif.
Dari total 72 produk yang dipantau, sebanyak 44 produk mencatatkan imbal hasil positif.
"Sebanyak 44 dari 72 produk unitlink saham berbasis valuta asing positif.
Dengan demikian, data menunjukkan produk berbasis valuta asing memang menjadi penyelamat portofolio tahun ini," ujar Wawan kepada Kontan, Rabu (14/10).
Kinerja positif juga terlihat pada unitlink pasar uang berbasis dolar Amerika Serikat.
Sejumlah produk dalam kelompok tersebut menghasilkan imbal hasil year to date sebesar 8,6% hingga 8,9%.
Namun, capaian itu tidak seragam di semua kategori.
Pada kategori pendapatan tetap berbasis dolar AS, Infovesta mencatat rata-rata imbal hasil turun 1,53% pada September 2026 dan melemah 1,72% per September 2026.
Perbedaan hasil terlihat ketika kategori saham, pasar uang, dan pendapatan tetap dibandingkan berdasarkan data yang disampaikan Infovesta.
Pengaruh Kurs dan Strategi Diversifikasi
Pergerakan nilai tukar menjadi salah satu faktor yang memengaruhi hasil investasi unitlink berbasis valuta asing ketika dikonversikan ke rupiah.
Wawan menerangkan bahwa pelemahan rupiah dapat menambah imbal hasil yang diterima investor dalam mata uang domestik.
Pengaruh kurs tersebut turut menjelaskan meningkatnya minat terhadap produk unitlink berbasis valuta asing.
Meski demikian, manfaat dari perubahan nilai tukar perlu dibedakan dari kinerja aset yang mendasari produk investasi.
Untuk prospek ke depan, Wawan menilai produk unitlink berbasis valuta asing masih memiliki daya tarik sebagai instrumen diversifikasi.
Investor perlu memperhitungkan risiko perubahan kurs yang dapat memengaruhi hasil akhir investasinya.
Risiko tersebut terutama berkaitan dengan kemungkinan rupiah kembali menguat setelah mengalami pelemahan.
"Apabila rupiah kembali menguat, sebagian keuntungan dari selisih kurs bisa tergerus," tutur Wawan.
Karena itu, Wawan menyarankan agar unitlink berbasis valuta asing ditempatkan sebagai pelengkap dalam pengelolaan portofolio, bukan sebagai pengganti seluruh investasi berbasis rupiah.
Pendekatan tersebut sejalan dengan fungsi diversifikasi yang dinilai masih menarik, sekaligus mempertimbangkan risiko perubahan nilai tukar.
