Kebiasaan mengurus adik, menyelesaikan pekerjaan rumah, hingga menjadi tempat curahan masalah orangtua dapat membuat anak perempuan terbiasa memikul tanggung jawab sejak dini.
Dalam psikologi, kondisi ketika anak mengambil alih peran pengasuhan yang semestinya dijalankan orang dewasa disebut parentifikasi.
Anak perempuan yang mengalaminya dikenal sebagai parentified daughter.
Psikolog klinis anak Robyn Koslowitz, PhD, menjelaskan bahwa parentifikasi muncul ketika anak menjalankan tanggung jawab pengasuhan fisik maupun emosional yang tidak sesuai tahap perkembangannya.
Parentifikasi terbagi menjadi dua bentuk utama, yaitu instrumental dan emosional.
Bentuk instrumental berkaitan dengan pekerjaan praktis, seperti memasak atau menjaga adik secara berlebihan.
Sementara itu, bentuk emosional melibatkan tanggung jawab terhadap perasaan dan hubungan anggota keluarga.
Anak dapat menjadi tempat orangtua mencari dukungan atau berusaha meredakan pertengkaran keluarga.
Tanda Parentifikasi yang Terbawa Hingga Dewasa
Sejumlah pola perilaku dapat menunjukkan pengalaman parentifikasi dan mungkin tetap terbawa hingga seseorang dewasa.
Pertama, terbiasa bersikap dewasa sejak kecil.
Anak berusaha membaca suasana hati orang lain dan menyesuaikan sikapnya agar keadaan tetap terkendali.
Orang di sekitarnya mungkin menganggapnya matang, meskipun ia kerap mengabaikan perasaan dan kebutuhannya sendiri.
Kedua, selalu mengambil peran sebagai penolong.
Ketika beranjak dewasa, kebiasaan mengurus orang lain dapat terbawa ke dalam hubungan pertemanan maupun percintaan.
Mereka mungkin merasa harus terus memberikan bantuan supaya tetap dianggap penting dan dibutuhkan.
Ketiga, kesulitan meminta dukungan.
Pengalaman menyelesaikan berbagai persoalan seorang diri dapat membuat seseorang tidak terbiasa mengandalkan orang lain.
Akibatnya, mengungkapkan kesulitan atau meminta pertolongan bisa terasa tidak nyaman.
Keempat, merasa bersalah ketika mendahulukan kebutuhan pribadi.
Menolak permintaan, mengambil waktu untuk beristirahat, atau memilih kepentingan sendiri dapat memicu rasa bersalah.
Perasaan tersebut berkaitan dengan kebiasaan menempatkan kebutuhan orang lain di atas kebutuhan pribadi.
Kelima, mengejar kesempurnaan dan menghindari konflik.
Keinginan untuk menyenangkan semua orang dapat mendorong seseorang berusaha melakukan segala sesuatu tanpa kesalahan.
Mereka juga mungkin menghindari perselisihan karena takut mengecewakan orang lain.
Penyebab dan dampak parentifikasi
Situasi keluarga tertentu dapat membuat anak mengambil tanggung jawab yang lebih besar daripada semestinya.
Kondisi tersebut antara lain ketika orangtua menghadapi penyakit serius, tekanan ekonomi, perceraian, atau kesulitan mengelola emosi.
Dalam keadaan seperti itu, anak bisa mengambil alih berbagai tugas untuk membantu keluarga tetap berfungsi.
Selain kondisi keluarga, norma sosial yang menempatkan anak perempuan sebagai pengasuh juga dapat berkontribusi terhadap munculnya parentifikasi.
Meski demikian, membantu pekerjaan rumah atau menjaga adik tidak serta-merta berarti seorang anak mengalami parentifikasi.
Hal utama yang perlu diperhatikan ialah besarnya tanggung jawab tersebut dan apakah pelaksanaannya mengganggu kebutuhan anak untuk memperoleh dukungan serta tumbuh sesuai usianya.
Parentifikasi juga tidak sama dengan eldest daughter syndrome, istilah populer yang menggambarkan tekanan yang kerap dikaitkan dengan posisi anak perempuan sulung.
Tidak semua anak sulung mengalami parentifikasi karena kondisi ini ditentukan oleh sejauh mana anak mengambil alih fungsi pengasuhan orang dewasa.
Dalam jangka panjang, pengalaman parentifikasi dapat berkaitan dengan kecemasan, kelelahan emosional, serta kesulitan membangun batasan yang sehat.
Seseorang mungkin terbiasa memenuhi kebutuhan pasangan, tetapi merasa kesulitan ketika harus meminta dukungan untuk dirinya sendiri.
Cara memulihkan diri dari pengalaman parentifikasi
Membangun hubungan yang lebih seimbang dapat dimulai dengan mengenali kebiasaan yang terbentuk selama masa kanak-kanak.
Kesadaran terhadap pola tersebut membantu seseorang memahami kecenderungan untuk selalu menyenangkan orang lain atau merasa bertanggung jawab atas emosi mereka.
Langkah berikutnya adalah belajar menetapkan batasan.
Seseorang dapat mulai mengatakan tidak ketika permintaan orang lain melampaui kemampuan, tanpa harus mengorbankan kebutuhan pribadi demi memberikan bantuan.
Menerima pertolongan juga merupakan bagian penting dalam membangun hubungan yang sehat.
Dukungan tidak harus selalu dibalas dengan bantuan yang sama secara langsung karena hubungan yang seimbang memberikan kesempatan bagi kedua pihak untuk saling mendukung.
Selain itu, menyediakan waktu untuk diri sendiri dapat membantu seseorang kembali memperhatikan kebutuhannya.
Kegiatan seperti berolahraga, menjalankan hobi, atau menghabiskan waktu bersama teman dapat menjadi bagian dari upaya tersebut.
Apabila pengalaman masa kecil terus memengaruhi kesehatan mental atau hubungan sehari-hari, berkonsultasi dengan psikolog dapat membantu mengenali pola yang terbentuk dan mengembangkan cara menghadapi masalah yang lebih sehat.
Kemandirian dan kepedulian terhadap keluarga bukanlah sesuatu yang keliru.
Namun, anak tetap membutuhkan pengasuhan, dukungan emosional, serta kesempatan untuk menjalani masa pertumbuhan sesuai dengan usianya tanpa harus memikul tanggung jawab yang semestinya berada di tangan orang dewasa.
