Inflasi produsen Amerika Serikat melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari empat tahun pada September 2026.
Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) mencatat Indeks Harga Produsen (PPI) naik 1,3 persen dibandingkan Agustus dan 6,3 persen secara tahunan.
Kenaikan bulanan itu jauh melampaui perkiraan ekonom yang disurvei Wall Street Journal sebesar 0,6 persen. Proyeksi tahunan 5,5 persen juga berada di bawah realisasi.
Menurut BLS, lonjakan bulanan terakhir yang lebih besar terjadi pada Februari hingga Maret 2022, ketika harga produsen meningkat 1,7 persen.
Data yang dihimpun Yahoo Finance menunjukkan kenaikan harga pada permintaan akhir, setelah komponen pangan dan energi dikeluarkan, mencapai 0,7 persen secara bulanan dan 5 persen secara tahunan.
Angka itu memperlihatkan tekanan harga tetap bertahan di luar dua kelompok komoditas tersebut.
Namun, energi tetap menjadi pendorong utama kenaikan biaya.
The Hill melaporkan lebih dari 80 persen peningkatan PPI September berasal dari sektor energi, yang indeks harganya naik 10,8 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Dalam laporan BLS yang dikutip Yahoo Finance, sekitar separuh kenaikan PPI September dikaitkan dengan harga bensin yang melonjak 20 persen.
Kenaikan juga tercatat pada bahan bakar diesel, bahan bakar penerbangan, minyak mentah, sayuran segar dan kering, serta listrik rumah tangga.
Gangguan pasokan minyak berkaitan dengan dampak perang Iran dan pembatasan pelayaran di Selat Hormuz, jalur penting perdagangan energi global.
Menurut The Hill, minyak mentah West Texas Intermediate diperdagangkan di atas 96 dolar AS per barel pada Kamis pagi, sementara serangan kelompok Houthi yang didukung Iran terhadap bandara di Arab Saudi turut meningkatkan tekanan pada harga minyak.
Tekanan di tingkat produsen muncul sehari setelah BLS melaporkan inflasi konsumen tahunan mencapai 3,7 persen pada September.
Angka Indeks Harga Konsumen (CPI) tersebut merupakan kenaikan tahunan terbesar sejak Mei, ketika inflasi konsumen tercatat 4,2 persen.
Kenaikan harga bensin menyumbang lebih dari separuh peningkatan CPI bulanan.
Selain biaya produksi, pengeluaran rumah tangga juga menunjukkan permintaan yang masih bertahan.
Data penjualan ritel yang dirilis pada Kamis mencatat kenaikan 0,8 persen pada September, lebih tinggi daripada perkiraan ekonom sebesar 0,3 persen, menurut Yahoo Finance.
Angka penjualan ritel Agustus direvisi naik menjadi 1,3 persen.
Namun, jika penjualan kendaraan bermotor dan bensin dikeluarkan dari perhitungan, penjualan ritel September hanya meningkat 0,2 persen, menunjukkan besarnya pengaruh pengeluaran terkait kendaraan dan bahan bakar terhadap angka keseluruhan.
Heather Long, kepala ekonom Navy Federal Credit Union, menilai kenaikan biaya perusahaan berpotensi diteruskan kepada konsumen.
"Tidak dapat dihindari" perusahaan akan meneruskan biaya yang meningkat kepada konsumen, kata Heather Long.
Data inflasi terbaru menjadi pertimbangan bagi Federal Reserve menjelang pertemuan pejabat bank sentral pada akhir Oktober.
Mereka akan menilai langkah suku bunga berikutnya di tengah tekanan harga yang masih tinggi dan risiko bahwa kenaikan biaya energi terus merambat ke harga barang dan jasa.