Intel tengah berada di fase krusial. CEO Lip-Bu Tan mengungkapkan bahwa restrukturisasi besar-besaran perusahaan sudah sekitar 80 persen selesai.
Sejak menjabat pada Maret 2025, ia telah mengganti sebagian besar jajaran eksekutif senior.
Langkah ini menjadi fondasi untuk mengejar ketertinggalan di manufaktur chip canggih dan pasar kecerdasan buatan (AI).
Perombakan Besar di Tubuh Intel
Dalam wawancara dengan Nikkei, Tan menyebut dirinya telah membawa sejumlah eksekutif baru ke dalam jajaran kepemimpinan. Salah satu nama yang mencuat adalah Seok-Hee Lee, mantan CEO SK hynix.
Kehadiran tokoh-tokoh baru ini bertujuan mempercepat pemulihan Intel setelah beberapa tahun terakhir terseok-seok. Tan tidak merinci sisa 20 persen restrukturisasi yang belum rampung atau kapan target penyelesaiannya.
Restrukturisasi ini juga menarik perhatian investor besar.
Nvidia dan SoftBank masing-masing membeli saham Intel senilai $5 miliar (sekitar Rp88,5 triliun) dan $2 miliar (sekitar Rp35,4 triliun).
Kepercayaan ini berdampak pada harga saham Intel yang naik hampir empat kali lipat sejak Tan memimpin.
Namun, Tan menegaskan bahwa pemerintah Amerika Serikat, yang memiliki sekitar 8,2 persen saham, tidak ikut campur dalam pengambilan keputusan strategis perusahaan.
Intel masih tertinggal jauh dari TSMC dalam hal manufaktur chip mutakhir. Perusahaan asal Taiwan itu butuh waktu 10 hingga 20 tahun untuk menjadi pemimpin foundry dunia.
Tan menyadari bahwa membangun kembali bisnis manufaktur kontrak Intel adalah proyek jangka panjang. Diperlukan investasi miliaran dolar selama bertahun-tahun untuk mengembangkan teknologi baru dan membangun pabrik.
Tekanan finansial sangat terasa. Pada kuartal ketiga 2024, Intel mencatat kerugian bersih mencapai $16,6 miliar (sekitar Rp293,8 triliun).
Kerugian ini terjadi di tengah upaya restrukturisasi besar yang dijalankan pendahulu Tan, Pat Gelsinger, yang kemudian mundur pada Desember 2024.
Pemerintah AS turut membantu dengan mengubah dana federal menjadi investasi senilai $8,9 miliar (sekitar Rp157,5 triliun).
Ketika ditanya tentang persaingan dari industri semikonduktor China, Tan menilai bahwa perusahaan AS dan China memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Faktor terpenting adalah solusi mana yang paling melayani konsumen dan pelanggan enterprise.
Ia juga menyebut bahwa perusahaan-perusahaan China "tidak terlalu jauh tertinggal" dalam teknologi semikonduktor. Pernyataan ini menjadi sinyal bahwa persaingan global di industri chip akan semakin ketat.
Bagi pengguna di Indonesia, dinamika industri chip ini berdampak langsung pada ketersediaan dan harga perangkat.
Prosesor Intel yang lebih kompetitif dapat mendorong produsen laptop dan PC merilis perangkat dengan harga lebih bersaing.
Kehadiran NPU (Neural Processing Unit) di chip Intel terbaru juga membuka jalan bagi fitur AI lokal di laptop, seperti penghapusan latar belakang saat video call atau isolasi suara, yang berjalan tanpa perlu koneksi internet.