Peringatan Hari Santri Nasional 2026 jatuh pada Kamis, 22 Oktober 2026. Banyak pembina upacara kini mencari teks sambutan Menteri Agama (Menag) untuk dibacakan pada upacara tersebut, namun hingga Senin, 19 Oktober 2026, teks sambutan resmi Menag untuk tanggal 22 Oktober belum ditemukan di publikasi resmi Kementerian Agama (Kemenag).
Tema Hari Santri 2026
Hari Santri Nasional 2026 mengusung tema resmi "Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas". Tema ini menjadi acuan seluruh rangkaian peringatan, termasuk upacara bendera yang akan digelar serentak di berbagai daerah.
Pedoman pelaksanaannya tertuang dalam Surat Edaran Menteri Agama No. 6 Tahun 2026. Dokumen panduan inilah yang saat ini sudah tersedia dan bisa dijadikan pegangan oleh panitia maupun pembina upacara di pesantren, madrasah, dan instansi terkait.
Pesan Menag soal Perjuangan Santri
Dalam peluncuran rangkaian Hari Santri pada 22 September 2026, Menteri Agama Nasaruddin Umar menekankan pentingnya mengingat perjuangan para santri, termasuk peristiwa Resolusi Jihad yang menjadi tonggak sejarah peringatan Hari Santri.
Menag juga menyampaikan empat modal utama yang dimiliki santri, yakni kedalaman ilmu, kekuatan karakter, tradisi yang mengakar, dan keberanian berinovasi. Keempat modal ini kerap menjadi kerangka isi amanat yang berbasis tema Hari Santri 2026.
Jadwal Upacara Serentak
Upacara peringatan Hari Santri 2026 dijadwalkan berlangsung serentak pada Kamis, 22 Oktober 2026, pukul 07.00 waktu setempat. Pelaksanaan upacara juga akan disiarkan melalui media sosial resmi Kemenag, sehingga masyarakat yang tidak hadir langsung tetap bisa mengikuti jalannya acara.
Status Teks Sambutan Resmi Menag
Perlu diketahui pembaca, per 19 Oktober 2026 teks sambutan resmi Menteri Agama untuk upacara 22 Oktober 2026 belum ditemukan di kanal publikasi resmi Kemenag. Yang tersedia saat ini adalah PDF panduan berdasarkan Surat Edaran No. 6 Tahun 2026 serta contoh amanat yang disusun berdasarkan tema peringatan, dan keduanya bukan teks sambutan resmi Menag.
Kami tidak menyediakan tautan unduhan teks sambutan yang tidak jelas asal-usulnya. Pembina upacara disarankan memantau langsung situs resmi Kemenag menjelang hari pelaksanaan, karena dokumen resmi biasanya dirilis mendekati tanggal upacara. Jika teks resmi sudah terbit, pastikan dokumen yang digunakan berasal dari kanal resmi Kemenag, bukan dari situs pihak ketiga.