Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Kamis, 22 Oktober 2026. Rupiah bergerak di kisaran Rp18.045 per dolar AS, kembali bertahan di atas level psikologis Rp18.000.
Pada pembukaan perdagangan, rupiah melemah tipis 11 poin ke Rp18.033 per dolar AS dibandingkan penutupan Rabu, 21 Oktober 2026, di level Rp18.022. Berdasarkan data Investing.com yang dihimpun pada pukul 09.58 WIB, rupiah berada di level Rp18.044,7 — naik 59,1 poin atau 0,33 persen dibandingkan penutupan sebelumnya, dengan rentang perdagangan Rp17.997,8 hingga Rp18.049. Sementara data Bloomberg mencatat dolar AS di level Rp18.047 pada pukul 10.25 WIB.
Sebagai gambaran kurs di perbankan, BCA pada pagi hari mematok e-rate beli dolar Rp18.030 dan jual Rp18.050, sedangkan Bank Mandiri menetapkan special rate beli Rp17.970 dan jual Rp18.000 per dolar AS.
Penyebab Pelemahan Rupiah
Menurut analis pasar keuangan Gunawan Benjamin, tekanan terhadap pasar keuangan domestik dipengaruhi sejumlah sentimen negatif, terutama dampak lanjutan dari rencana MSCI yang memicu kekhawatiran arus keluar modal asing (capital outflow) dari pasar saham. Tekanan jual asing di pasar saham masih berlanjut dan menjadi risiko utama pelemahan rupiah.
Sentimen juga memburuk seiring harga minyak mentah dunia yang bertahan di atas US$100 per barel. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap beban APBN serta berpotensi mendorong inflasi dan menaikkan tuntutan imbal hasil. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan suku bunga global yang bertahan tinggi lebih lama (higher for longer) turut menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Respons Bank Indonesia
Bank Indonesia (BI) telah menegaskan akan terus menjaga stabilitas nilai tukar. BI mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen, memperkuat insentif lindung nilai melalui Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta secara bertahap menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) untuk menstabilkan likuiditas domestik.
Gubernur BI Destry Damayanti menegaskan bank sentral akan selalu berjaga di pasar. Di tengah tekanan ini, IHSG pun sempat anjlok ke level 5.185 pada pembukaan perdagangan pagi ini sebelum berbalik arah. Pelaku pasar kini menanti perkembangan arus modal asing dan arah kebijakan suku bunga The Fed sebagai penentu langkah rupiah berikutnya.
