unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Bakteri Kimchi Disebut Mampu Ikat Nanoplastik, Ini Hasil Uji pada Tikus
News

Bakteri Kimchi Disebut Mampu Ikat Nanoplastik, Ini Hasil Uji pada Tikus

Ilustrasi kimchi, makanan fermentasi Korea yang diteliti karena bakteri asam laktatnya berpotensi mengikat nanoplastik.
Bakteri Kimchi Disebut Mampu Ikat Nanoplastik, Ini Hasil Uji pada Tikus
A A Ukuran Teks16px

Penelitian dari World Institute of Kimchi di Korea Selatan menyoroti potensi bakteri asam laktat dari kimchi dalam mengikat partikel nanoplastik di usus.

Temuan ini menjadi perhatian karena nanoplastik telah menyebar di berbagai ekosistem, termasuk rantai makanan.

Universitas Airlangga melalui laman resminya menyebut penyebaran partikel berukuran sangat kecil itu menimbulkan kekhawatiran terhadap kesehatan manusia.

Studi tersebut menguji kemampuan bakteri dari kimchi untuk mengikat nanoplastik, dengan fokus pada partikel polistirena atau PS-NP.

Perbandingan daya ikat dua galur bakteri

Tim yang dipimpin Dr. SeHee Lee dan Dr. TaeWoongWhon menguji adsorpsi bakteri Leuconostoc mesenteroides CBA3656.

Sebagai pembanding, peneliti menggunakan galur Latilactobacillus sakei CBA3608 untuk melihat perbedaan kemampuan keduanya.

Adsorpsi adalah proses ketika suatu zat menempel pada permukaan zat lain.

Dalam penelitian ini, kemampuan tersebut penting agar nanoplastik dapat terikat di lingkungan usus dan keluar bersama feses.

Pada kondisi laboratorium standar, Leuconostoc mesenteroides CBA3656 mencatat efisiensi adsorpsi 87%.

Angka itu sedikit lebih tinggi dibandingkan Latilactobacillus sakei CBA3608 yang mencapai 85% dalam kondisi pengujian sama.

Perbedaan lebih mencolok muncul saat kedua galur diuji dalam lingkungan yang menyerupai saluran pencernaan manusia.

Kemampuan adsorpsi CBA3608 merosot hingga 3%, sedangkan CBA3656 masih mempertahankan tingkat adsorpsi 57%.

Perbandingan ini memperlihatkan CBA3656 lebih stabil dalam kondisi yang menyerupai sistem pencernaan.

Penurunan pada galur pembanding menunjukkan hasil laboratorium standar tidak selalu mencerminkan kemampuan bakteri di lingkungan kompleks.

Namun, angka tersebut menggambarkan pengujian terhadap galur bakteri tertentu, bukan bukti bahwa konsumsi kimchi langsung dapat menghilangkan nanoplastik dari tubuh manusia.

Selain pengujian laboratorium, tim peneliti mengamati pengaruh CBA3656 melalui eksperimen pada model tikus bebas kuman.

Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah pemberian bakteri tersebut berkaitan dengan peningkatan jumlah nanoplastik yang dikeluarkan melalui feses.

Hasilnya, tikus jantan dan betina yang menerima galur CBA3656 memiliki jumlah nanoplastik terdeteksi dalam feses lebih dari dua kali lipat dibandingkan kelompok kontrol tanpa probiotik.

Peningkatan itu mendukung dugaan bahwa bakteri dari kimchi dapat membantu ekskresi nanoplastik melalui pengikatan partikel di usus.

Meski demikian, hasil pada hewan percobaan belum membuktikan mekanisme serupa akan memberikan hasil sama pada manusia.

Penelitian ini berfokus pada kemampuan adsorpsi bakteri dan perubahan jumlah nanoplastik dalam feses.

Karena itu, temuan tersebut perlu dipahami sebagai hasil penelitian eksperimental, bukan kepastian bahwa kimchi dapat membersihkan seluruh nanoplastik yang masuk ke tubuh.

Dr. Sehee Lee, peneliti utama studi tersebut, menyoroti hubungan antara pencemaran plastik dan persoalan kesehatan.

Menurutnya, penelitian ini membuka peluang untuk mempelajari pemanfaatan mikroorganisme dari makanan fermentasi tradisional dalam menghadapi tantangan terkait nanoplastik.

Ia menyampaikan pengembangan penelitian terhadap mikroorganisme dalam kimchi akan terus dilakukan untuk mengeksplorasi manfaat ilmiahnya bagi kesehatan masyarakat dan lingkungan.

"Kami akan terus mengembangkan nilai ilmiah dari sumber daya mikroba dalam kimchi guna berkontribusi terhadap kesehatan masyarakat dan solusi bagi lingkungan," ujarnya seperti dikutip dari laman Science Daily.

Dengan hasil pengujian yang mencakup analisis adsorpsi di laboratorium dan eksperimen pada tikus, penelitian tersebut memberikan dasar untuk mengkaji lebih lanjut peran bakteri asam laktat dalam pengeluaran nanoplastik.

Bukti yang tersedia dalam studi ini masih berpusat pada pengujian eksperimental, sehingga manfaatnya bagi manusia belum dapat dipastikan.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru