Sebuah studi ilmiah mengidentifikasi burung lonceng leher telanjang atau bare-throated bellbird (Procnias nudicollis) sebagai spesies unggas dengan kicauan paling nyaring di bumi.
Peneliti dari University of Massachusetts Amherst mencatat burung ini mampu memproduksi suara hingga 131 desibel.
Hasil riset yang terbit di jurnal Evolution tersebut memecahkan rekor volume kicauan unggas.
Burung lain yang juga memiliki tingkat kebisingan tinggi di atas 120 desibel adalah burung seriema kaki merah atau red-legged seriema (Cariama cristata).
Pengukuran dan Perbandingan
Spesies bare-throated bellbird masih berkerabat dekat dengan white bellbird yang memegang rekor Guinness World Records sejak 2019.
Pada pengujian jarak standar satu meter dalam durasi singkat 20 milidetik, nyaring suara bare-throated bellbird berada di angka 122,4 desibel dengan puncak tertinggi menyentuh 131 desibel.
Sementara itu, pengukuran terhadap dua ekor red-legged seriema mencatatkan rata-rata kicauan mendekati 121 desibel.
Sebagai pembanding, enam ekor white bellbird menghasilkan kicauan puncak rata-rata sebesar 127 desibel.
Tingkat kebisingan kicauan burung-burung ini tergolong sangat ekstrem bagi pendengaran manusia.
Kebisingan lalu lintas padat umumnya berkisar di angka 85 desibel, sedangkan raungan knalpot bising mencapai 100 desibel.
Intensitas suara 120 hingga 130 desibel setara dengan gemuruh mesin pesawat jet yang lepas landas dari jarak dekat.
Dalam penelitian tersebut, para ahli mengamati 123 spesies burung di wilayah Massachusetts dan Brasil, yang mana 113 di antaranya belum pernah direkam sebelumnya.
Proses pengambilan data di alam bebas memanfaatkan alat pengukur jarak berbasis laser guna menghitung volume suara dan jarak secara bersamaan.
Tim peneliti mengeliminasi kebisingan latar belakang lalu membandingkan intensitas suara dengan dimensi fisik burung.
Analisis menunjukkan bahwa ukuran tubuh serta lebar bukaan paruh berbanding lurus dengan kekuatan suara yang dihasilkan.
"Burung yang lebih besar memiliki otot yang lebih besar, yang mampu menciptakan tekanan internal yang lebih besar, yang pada akhirnya menghasilkan suara yang lebih keras," kata João CT Menezes, salah satu penulis studi sekaligus pakar biologi evolusi.
Meski demikian, para ilmuwan belum mengetahui alasan pasti mengapa burung dapat bersuara lebih kencang dibanding hewan lain bertubuh lebih besar.
Faktor lingkungan maupun evolusi yang memicu perbedaan volume antarspesies tersebut juga masih memerlukan penelitian lanjutan.
"Seiring para peneliti lapangan terus mengumpulkan lebih banyak data tentang suara burung, saya memperkirakan bahwa lebih banyak lagi burung 'terberisik' akan diidentifikasi di masa mendatang," kata Menezes.
