Ending Laut Bercerita membuat banyak pembaca bertanya-tanya: siapa sebenarnya pengkhianat yang menyebabkan Biru Laut dan kawan-kawannya ditangkap? Jawabannya, menurut cara novel ini dibangun, tidak pernah diberikan secara pasti.
Laut Bercerita adalah novel karya Leila S. Chudori yang terbit pada 2017 melalui Kepustakaan Populer Gramedia. Novel ini termasuk fiksi sejarah yang terinspirasi oleh peristiwa penculikan aktivis pada 1998. Penting ditegaskan, novel ini bukan kisah nyata secara harfiah, melainkan karya fiksi yang mengambil latar dan suasana dari masa yang nyata dalam sejarah Indonesia.
Tokoh utamanya adalah Biru Laut, aktivis mahasiswa dari Yogyakarta yang tergabung dalam kelompok Winatra atau Wirasena. Melalui Biru Laut, pembaca diajak melihat dunia aktivisme mahasiswa, persahabatan, idealisme, serta risiko yang menyertai pilihan untuk bersuara pada masa itu.
Pengkhianat yang Tidak Pernah Ditunjuk
Dalam cerita, penangkapan yang menimpa Biru Laut dan kawan-kawannya memunculkan dugaan bahwa ada informasi yang bocor dari dalam. Namun novel ini tidak pernah menunjuk satu nama secara definitif sebagai pengkhianat. Tidak ada pengakuan yang tegas dan tidak ada bukti yang menutup semua kemungkinan.
Karena itu, pembaca memiliki ruang untuk menebak. Sejumlah dugaan yang beredar menyebut nama Yusuf, ada pula yang mengarah pada Alex Perazon, dan ada juga kemungkinan bahwa seseorang dipaksa berbicara di bawah penyiksaan. Ketiga kemungkinan itu menunjukkan betapa rumitnya situasi yang digambarkan novel ini. Pengkhianatan, bila memang terjadi, tidak selalu lahir dari niat jahat semata, tetapi bisa lahir dari tekanan dan ketakutan.
Dengan tidak menunjuk satu nama, Leila S. Chudori seolah mengajak pembaca untuk tidak cepat menghakimi. Novel ini lebih tertarik pada pertanyaan tentang apa yang terjadi pada para aktivis, bagaimana keluarga mereka menanggung kehilangan, dan mengapa kebenaran begitu sulit ditegakkan, daripada sekadar memberi jawaban yang memuaskan rasa penasaran.
Akhir Cerita pada Tahun 2000
Bagian akhir novel berlatar tahun 2000. Pada titik ini, Biru Laut sudah tidak lagi hadir sebagai tokoh yang bisa menceritakan kisahnya sendiri. Yang tersisa adalah pencarian yang belum selesai. Adiknya, Anjani, terus mencari jasad kakaknya dan terus memperjuangkan keadilan atas apa yang menimpanya.
Pencarian Anjani menjadi pusat emosi dari penutup cerita. Di mana jasad Biru Laut berada, apa yang sebenarnya terjadi padanya, dan siapa yang harus bertanggung jawab, semuanya masih menggantung. Nasib Biru Laut tetap tidak terselesaikan secara tuntas, dan ketidakpastian itulah yang membuat akhir novel ini terasa berat.
Akhir yang terbuka ini selaras dengan tema besar novelnya. Laut Bercerita tidak berusaha menutup sejarah dengan kesimpulan yang rapi. Sebaliknya, novel ini membiarkan luka, pertanyaan, dan penantian tetap hidup. Karena itulah endingnya terasa kuat bukan karena memberi jawaban, melainkan karena berani tidak memberi jawaban: pengkhianatnya tidak ditunjuk, jasadnya belum ditemukan, dan keadilan masih diperjuangkan.