The Lament of Autumn menutup kisahnya di episode 40 dengan akhir yang mengharukan. Berikut penjelasan ending drama China era Republik yang dibintangi Cheng Lei dan Xu Ruohan ini.
Drama ini mengisahkan pernikahan Yu Pingjun dan Yu Changxuan yang bermula dari perjodohan politik. Seiring waktu, hubungan yang awalnya formal itu tumbuh menjadi cinta yang sungguhan, hingga Pingjun akhirnya memilih Changxuan atas kehendaknya sendiri.
Changxuan sendiri terbelah antara kesetiaan pada keluarga dan cintanya. Pada akhirnya ia memilih melindungi Pingjun dan putra mereka, Xiaoyu, meski harus mengorbankan nyawanya sendiri.
Changxuan Gugur di Medan Perang
Pada episode 40, Changxuan gugur di medan perang. Pasukannya kehabisan amunisi dan bertempur dengan bayonet; ia terluka parah dan tidak bangkit lagi. Tidak ada dialog yang secara eksplisit mengumumkan kematiannya, tetapi ia tak pernah muncul lagi setelah adegan itu.
Sebelum berangkat berperang, Changxuan sempat berjanji akan menanam pohon maple bersama Xiaoyu sepulang nanti. Adegan akhir memperlihatkan pohon itu sudah tertanam, sementara Changxuan telah tiada.
Jawaban Pingjun untuk Xiaoyu
Ketika Xiaoyu bertanya kapan ayahnya pulang, Pingjun menjawab bahwa ayahnya akan pulang saat daun maple memerah. Jawaban itu bukan isyarat bahwa Changxuan masih hidup, melainkan cara Pingjun menjaga kenangan sang ayah bagi putranya tanpa menjanjikan pertemuan yang tak akan pernah terjadi.
Makna Ending
Akhir cerita ini menegaskan Pingjun melanjutkan hidup bersama putranya sambil merawat kenangan. Changxuan mengakhiri kisahnya dengan membela wilayah dan melindungi orang-orang tercinta, bukan mempertahankan kekuasaan. Pohon maple menjadi simbol cinta yang tetap bertahan meski waktu bersama telah berakhir.