Godzilla Minus Zero (2026) resmi tayang di bioskop Indonesia pada 4 November, sehari setelah rilis di Jepang. Film ini menjadi kelanjutan dari Godzilla Minus One (2023) yang meraih Oscar, dan kembali disutradarai sekaligus ditulis Takashi Yamazaki.
Ancaman monster kali ini digambarkan lebih mengerikan, setelah Jepang porak-poranda akibat perang dan serangan Godzilla sebelumnya.
Latar 1949: Jepang yang Masih Membangun Kembali
Cerita mengambil latar tahun 1949, dua tahun setelah kehancuran besar Tokyo pada film pertama. Jepang masih berjuang membangun kembali secara perlahan setelah Perang Dunia II.
Di tengah situasi itu, mantan pilot kamikaze Koichi Shikishima (Ryunosuke Kamiki) berusaha menjalani hidup tenang. Ia membesarkan anak angkatnya, Akiko, bersama Noriko Oishi (Minami Hamabe), yang selamat secara ajaib dari serangan Tokyo sebelumnya.
King Ghidorah Muncul, Godzilla Bangkit
Kedamaian itu berakhir ketika makhluk kuno King Ghidorah, yang juga disebut Monster Zero, tiba-tiba muncul dan meratakan kota-kota. Kehancuran parah terjadi di wilayah Matsumoto.
Di sisi lain, Godzilla yang sebelumnya tak berdaya meregenerasi sel-sel tubuhnya. Ia kembali dalam wujud lebih besar dan lebih buas, untuk memburu rivalnya.
Pertarungan dua monster raksasa itu memaksa Koichi dan rekan-rekannya kembali ke medan pertarungan yang lebih mengerikan dari sebelumnya. Mereka mempertaruhkan sisa hidup mereka dalam pertahanan terakhir umat manusia, tanpa kesempatan ketiga.
Rating Dewasa Pertama dalam Sejarah Waralaba
Sebelum tayang, Godzilla Minus Zero sudah mencatat rekor. Film ini menjadi film Godzilla pertama dalam 72 tahun sejarah waralaba yang membawa rating dewasa, Rated R (Restricted) dari badan pemeringkat film.
Itu juga menjadi yang pertama sejak debut layar sang monster pada 1954, dan mengisyaratkan kekerasan serta teror yang jauh lebih intens dibanding pendahulunya.