Kemenangan 1-0 Arsenal di Anfield menjadi penanda terbaru perubahan mentalitas yang dibangun Mikel Arteta sejak akhir 2019.
Pada Minggu (31/10/2026), Kai Havertz mencetak satu-satunya gol pada menit ke-16 melewati Alisson Becker, mengakhiri rentetan hampir 14 tahun tanpa kemenangan Arsenal di Anfield. Kemenangan itu menjadi pijakan bagi sebuah fitur tentang tangan dingin Arteta.
Warisan yang Diterima Arteta
Arteta mengambil alih pada akhir 2019 dengan status mantan pemain Arsenal dan asisten Pep Guardiola di Manchester City, tanpa pengalaman sebagai pelatih kepala. Ia mewarisi skuad yang tidak teratur, penggemar yang terpecah, dan identitas klub yang hilang.
Tahun-tahun awal tidak mudah: finis di luar zona Liga Champions, finis peringkat kedelapan, dan paceklik trofi yang panjang. Namun, ia tetap mendapat dukungan klub.
Dari Runner-up ke Puncak
Arsenal kemudian finis sebagai runner-up Premier League tiga musim beruntun, sebelum menurut artikel mengakhiri paceklik gelar Premier League musim lalu dan nyaris memenangi Liga Champions pertama pada musim yang sama, kalah dari PSG lewat adu penalti di final.
Musim ini, Arsenal memuncaki Premier League dengan 24 poin dari sembilan laga, unggul tiga poin atas Manchester City. Di Liga Champions, mereka tak terkalahkan dan berada di peringkat kesembilan setelah imbang 2-2 dengan Bayern Munchen pada matchday 3, dengan Slavia Praha sebagai lawan berikutnya.
Apa Kata Merino?
Gelandang Mikel Merino, berbicara sebelum laga melawan Slavia Praha, memuji pengaruh Arteta. Menurutnya, Arteta mungkin tampak terobsesi dengan bertahan, tetapi sebenarnya ia terobsesi menjadi yang terbaik dalam segala hal. Setiap sesi latihan adalah kesempatan untuk berkembang, bukan hanya secara taktis atau teknis. Perbedaan utama kini, kata Merino, adalah mentalitas tim.
Secara keseluruhan musim ini, Arsenal mencatat 13 kemenangan dan 2 kekalahan dari 15 laga, termasuk trofi Community Shield, dengan 27 gol dicetak, 8 kebobolan, dan 9 clean sheet.