AC Milan menelan kekalahan memalukan 0-2 dari Ferencvaros di San Siro pada Liga Europa, Jumat 6 November 2026 dini hari WIB.
Hasil ini terasa pahit karena datang hanya beberapa hari setelah Milan mengalahkan Inter Milan 3-1 di Serie A. Kemenangan besar atas rival sekota itu seolah hilang begitu saja setelah Rossoneri kembali tampil mengecewakan di Eropa.
Di Liga Europa musim ini, catatan Milan kini semakin mengkhawatirkan: tiga kekalahan dari empat laga pertama. Satu kemenangan dari empat pertandingan jelas bukan catatan yang pantas bagi tim sebesar Milan, dan kekalahan dari Ferencvaros di kandang sendiri membuat situasi semakin sulit.
Amorim Kehabisan Kata-kata
Pelatih Ruben Amorim tidak mencoba menutupi kekecewaannya. Dikutip dari Sky Sports Italia, ia berkata terus terang: "Tidak ada penjelasan. Tidak ada yang bisa saya katakan, terutama mengenai babak pertama. Saya tidak..."
Amorim menilai timnya kalah karena kesalahan sendiri. "Kami memberikan peluang secara cuma-cuma dan melakukan kesalahan-kesalahan bodoh. Kami tidak siap untuk bermain," ujarnya.
Menurut Amorim, masalah utama Milan bukan soal cedera atau kondisi fisik, melainkan konsentrasi dan mentalitas. "Mungkin saya tidak melakukan cukup banyak hal untuk memastikan tim siap. Kami tidak siap beralih dari satu pertandingan ke pertandingan lain," katanya.
Belum Siap Bersaing di Dua Kompetisi
Soal jadwal padat, Amorim mengakui timnya belum mampu menghadapinya. "Kami belum siap bersaing di dua kompetisi. Kami harus memperbaiki pendekatan dan cara kami memandang pertandingan," ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa timnya tidak menunjukkan keberanian yang dibutuhkan. "Kami harus menemukan solusi. Malam ini kami tidak siap dan tidak menunjukkan keberanian," kata Amorim.
Meski begitu, Amorim menolak menyerah pada kompetisi ini. "Saya tidak akan menyerah pada kompetisi ini. Selama masih memungkinkan secara matematis, kami akan..." berjuang untuk lolos, ujarnya.
Kini Milan harus segera menemukan jawaban. Dengan tiga kekalahan dari empat laga, ruang untuk kesalahan berikutnya hampir tidak ada lagi. Amorim sendiri mengakui solusinya harus ditemukan dari dalam tim, bukan dari alasan di luar lapangan.
