Daftar 14 Korban Tewas Akibat Longsor di Tambang Galian C Gunung Kuda Cirebon, Nama-Nama Telah Diidentifikasi
Sebuah tragedi maut terjadi di wilayah Gunung Kuda, Desa Cipanas, Kecamatan Dukupuntang, Kabupaten Cirebon pada hari Jumat (30/5/2025) malam WIB. Sebuah insiden longsor menimpa area tambang galian C yang dikelola oleh Koperasi Pondok Pesantren Al Azhariyah. Kejadian ini menyebabkan 14 orang meninggal dunia dan sejumlah korban lainnya masih dalam proses pencarian.
Bencana alam yang terjadi di lokasi pertambangan tersebut menjadi perhatian luas masyarakat, terutama dari keluarga korban serta pihak berwenang. Pemerintah daerah pun langsung merespons dengan tegas atas kejadian ini.
Gubernur Jabar Berikan Sanksi Tegas
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, atau akrab disapa Kang Dedi, langsung mengambil langkah tegas pasca-terjadinya longsor. Melalui unggahan video di akun Instagram resminya, @dedimulyadi71, ia menyatakan bahwa izin operasional tambang galian C di Gunung Kuda akan dicabut.
“Kami tidak main-main. Ini adalah bentuk tanggung jawab kita semua sebagai pemerintah untuk menjaga keselamatan warga,” ujar Dedi Mulyadi dalam video tersebut.
Pernyataan ini mendapat apresiasi dari berbagai kalangan, terlebih tragedi semacam ini bukan kali pertama terjadi di area tambang ilegal maupun legal di wilayah Jawa Barat.
Identifikasi Korban Meninggal Dunia
Sementara itu, Kapolresta Cirebon, Kombes Pol Sumarni, memberikan keterangan bahwa hingga Sabtu (31/5/2025), sebanyak 13 jenazah telah dipulangkan ke keluarga masing-masing. Sedangkan satu jenazah lainnya masih dalam proses identifikasi lebih lanjut.
Berikut daftar nama korban meninggal dunia yang berhasil dihimpun:
Sanuri , 47 tahun, warga Desa Semplo, Kabupaten Cirebon
Rino Ahmadi , 28 tahun, warga Desa Cikalahang, Kabupaten Cirebon
Andri , 41 tahun, warga Desa Padaneunghar, Kabupaten Kuningan
Sukadi , 48 tahun, warga Desa Buntet, Kabupaten Cirebon
Sarwa , 36 tahun, warga Kelurahan Kenanga, Kabupaten Cirebon
Dedi Hirmawan , 45 tahun, warga Desa Cimenyan, Kabupaten Bandung
Sukendra , 51 tahun, warga Desa Girinata, Kabupaten Cirebon
Rusjaya , 48 tahun, warga Desa Beberan, Kabupaten Cirebon
Toni , 46 tahun, warga Desa Kepuh, Kecamatan Paliman, Kabupaten Cirebon
Wastoni Hamzah , 25 tahun, warga Desa Srengseng, Kabupaten Indramayu
Ikad Budiarso , 47 tahun, warga Desa Budur, Kabupaten Cirebon
Jamaludin , 49 tahun, warga Desa Srengseng, Kabupaten Indramayu
Masih ada satu korban lagi yang belum dapat dikonfirmasi identitasnya hingga berita ini diturunkan.
Korban Berasal dari Berbagai Wilayah
Menurut informasi yang dihimpun, para korban berasal dari beberapa daerah di Jawa Barat, seperti Kabupaten Cirebon, Kuningan, Bandung, hingga Indramayu. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas tambang galian C di Gunung Kuda melibatkan banyak pekerja dari berbagai wilayah.
Respons dari Keluarga Korban
Tragedi ini tentu saja meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga korban. Sebagian besar korban merupakan tulang punggung keluarga yang mencari nafkah di sektor pertambangan.
"Kami sangat sedih. Suami saya bekerja di sana demi biaya sekolah anak-anak," ujar salah seorang istri korban yang enggan disebutkan namanya.
Pihak keluarga berharap agar pemerintah lebih ketat dalam pengawasan aktivitas tambang, baik secara legal maupun ilegal, guna mencegah kejadian serupa di masa depan.
Seruan untuk Evaluasi Seluruh Area Tambang
Pasca-tragedi di Gunung Kuda, berbagai pihak menyerukan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap seluruh area tambang di wilayah Jawa Barat, terutama tambang galian C yang kerap diabaikan aspek keselamatannya.
Organisasi lingkungan hidup dan LSM buruh turut angkat bicara, meminta pemerintah daerah untuk tidak hanya memberhentikan operasional tambang tertentu tetapi juga melakukan audit keselamatan secara berkala.
Pentingnya Kesadaran akan Risiko Tambang Ilegal
Kejadian ini menjadi pengingat pentingnya kesadaran masyarakat dan pemerintah terhadap risiko pengelolaan tambang yang tidak sesuai standar keselamatan. Tambang galian C, meskipun skala kecil, tetap harus memenuhi aturan teknis pertambangan, termasuk mitigasi bencana.
Langkah-langkah preventif seperti pelatihan keselamatan kerja, pembangunan drainase yang baik, serta penempatan alat pendeteksi tanah longsor bisa menjadi solusi untuk menghindari tragedi serupa.