Dandhy Laksono Prediksi Dampak Jika Perang Dunia III Pecah, Bandingkan dengan Masa Perang Dunia II

Konflik antara Iran dan Israel yang semakin memanas dalam beberapa waktu terakhir berhasil mencuri perhatian dunia internasional. Situasi di Timur Tengah kembali menjadi sorotan setelah Amerika Serikat (AS) secara terang-terangan menyatakan keterlibatannya dalam aksi militer terhadap Iran. Bahkan mantan Presiden AS, Donald Trump, mengklaim bahwa AS telah melakukan serangkaian pemboman di tiga titik strategis di wilayah Iran.

Keterlibatan negara adidaya seperti Amerika Serikat tentu saja menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi banyak kalangan. Isu potensi pecahnya Perang Dunia III pun mulai ramai diperbincangkan di berbagai platform media sosial, salah satunya Twitter, hingga menjadi trending topic global.

Salah satu tokoh yang turut memberikan pandangan kritis soal kemungkinan Perang Dunia III adalah aktivis sekaligus sutradara kondang, Dandhy Dwi Laksono . Melalui cuitan di akun Twitter pribadinya pada tanggal 22 Juni 2025, Dandhy memprediksi dampak yang akan terjadi jika Perang Dunia III benar-benar meletus. Ia juga membandingkannya dengan situasi saat Perang Dunia II berlangsung, terutama terkait posisi Indonesia dalam konflik global tersebut.

Peran Strategis Indonesia Saat Perang Dunia II
Dalam cuitannya, Dandhy mengingatkan bagaimana Indonesia menjadi lokasi yang sangat strategis selama masa Perang Dunia II. Wilayah Nusantara saat itu menjadi rebutan karena sumber daya alamnya yang melimpah, seperti minyak bumi, kayu, beras, hingga tenaga kerja Romusha yang dimanfaatkan oleh pasukan Jepang.


“Saat WW2, Indonesia bonyok karena diincar minyak, kayu, beras, dan tenaga romusha. Tapi 'berkahnya' bisa proklamasi,” tulis Dandhy dalam unggahannya.

Ungkapan “berkahnya” merujuk pada momentum bersejarah ketika bangsa Indonesia akhirnya berhasil memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, meskipun harus membayar harga mahal dalam bentuk penjajahan dan eksploitasi selama masa perang.

Lima Komoditas Strategis yang Bisa Menjadi Sasaran di WW3
Melihat situasi geopolitik saat ini, Dandhy Laksono lalu memprediksi lima komoditas impor strategis yang berpotensi membuat Indonesia kembali menjadi sasaran dalam konflik berskala global.

Kelima barang tersebut adalah:

Bahan Bakar Minyak (BBM) – Energi masih menjadi komoditas vital dalam perekonomian dan pertahanan suatu negara.
Gandum – Ketersediaan pangan menjadi isu sentral dalam stabilitas nasional, terlebih gandum merupakan bahan pokok untuk produk makanan seperti roti.
Kedelai – Selain sebagai bahan pangan, kedelai juga menjadi bahan baku industri ternak dan pengolahan makanan.
Kapas – Material penting untuk industri tekstil dan pakaian, termasuk seragam militer.
Obat-obatan – Ketersediaan obat dan alat kesehatan menjadi prioritas utama di tengah situasi darurat atau perang.
“Jika pecah WW3, Indonesia bonyok karena 5 barang impor super strategis: 1. BBM, 2. Gandum, 3. Kedelai, 4. Kapas, 5. Obat-obatan. Berkahnya, siapa yang proklamasi?” tanyanya retoris.

Pertanyaan tersebut mengundang banyak reaksi dari warganet. Cuitan tersebut telah mendapatkan lebih dari 32,7 ribu tayangan dan menuai ratusan komentar dari berbagai netizen.

Respons Warganet: Kritik, Optimisme, Hingga Harapan Reformasi
Beragam respons hadir dari para pengguna Twitter. Ada yang menyanggah prediksi Dandhy dengan optimisme akan potensi lokal Indonesia, ada pula yang mengaitkannya dengan situasi politik dalam negeri.

Akun @ustlevantsensei berkomentar, “Nomor 1 dan 2 sekarang kurang bonyok apalagi, yang paling ketar-ketir mah Korea Selatan dan Jepang yang mayoritas impor.”

Sementara itu, akun @iwkirin menegaskan optimisme nasional, “Indonesia bangsa besar! Gak ada gandum kita punya singkong, bahkan singkong berbuah jagung pun kita punya.”

Ada pula tanggapan bernada kritis terhadap kondisi pemerintahan saat ini. Akun @ongkiyong3355 menulis, “Jika WW3 bukan proklamasi tapi reformasi. Ganti semua pemimpin, pejabat rezim bobrok ini dari pucuk sampai akar.”

Apakah Ancaman Perang Dunia III Masih Relevan?
Meskipun isu WW3 kini tengah hangat diperbincangkan, banyak ahli dan analis geopolitik yang menilai bahwa situasi saat ini belum mencapai eskalasi perang skala global. Namun, dengan meningkatnya ketegangan antarnegara besar, serta keterlibatan blok-blok kekuatan seperti NATO, Rusia, China, dan Amerika Serikat, risiko konflik yang meluas tidak bisa diabaikan begitu saja.

Baca juga: Ambulans Dihentikan Saat Menuju Pasien Kritis, Nyawa Tak Terselamatkan Gara-gara Salah Paham