Serangan dalam jumlah besar dapat memaksa lawan mengeluarkan biaya jauh lebih besar hanya untuk menghentikan ancaman tersebut.

Kekuatan pada jumlah produksi

Pengamat perang drone Seth Frantzman menilai efektivitas Shahed-136 berasal dari kemampuannya diproduksi dalam jumlah besar.

Ia menyebut sistem tersebut memberikan kemampuan serangan udara murah bagi Iran.

Meski tidak selalu memiliki presisi tinggi, drone ini tetap dapat menciptakan gangguan signifikan pada sistem pertahanan udara.

Dalam beberapa kasus, drone ini bahkan mampu melewati sistem pertahanan mahal milik lawan.

Serangan di berbagai negara Teluk


Dalam konflik terbaru, Iran melancarkan serangan drone dan rudal ke berbagai lokasi yang berkaitan dengan kehadiran militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Sasaran meliputi Israel serta pangkalan militer di Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, Qatar, dan Arab Saudi.

Dengan menyebarkan serangan di beberapa wilayah sekaligus, Iran memaksa sistem pertahanan udara lawan untuk menyebarkan sumber daya mereka.

Keterbatasan jumlah pencegat membuat setiap lokasi tidak dapat dilindungi secara maksimal.

Akibatnya, sebagian serangan dapat menembus perlindungan pertahanan udara.

Sejumlah analisis sumber terbuka memperkirakan total armada drone Shahed dari berbagai varian mencapai sekitar 80.000 hingga 100.000 unit.

Produksi yang masih berjalan sekitar 500 unit per bulan memungkinkan Iran mempertahankan stok dalam jumlah besar.

Dalam skenario mobilisasi penuh, Iran diperkirakan mampu meluncurkan lebih dari 2.500 drone dalam satu hari.

Tekanan terhadap persediaan pencegat

Para analis Barat memperingatkan bahwa persediaan rudal pencegat dapat kesulitan menghadapi gelombang serangan drone yang besar.

Tekanan terhadap stok pertahanan udara sudah terlihat sejak konflik pada pertengahan 2025.

Dalam pertempuran selama 12 hari saat itu, Amerika Serikat menembakkan sekitar 150 rudal pencegat sistem Terminal High Altitude Area Defense untuk mempertahankan wilayah Israel.