Film animasi musikal KPop Demon Hunters berhasil mencuri perhatian publik, tidak hanya melalui visualnya yang memukau tetapi juga komposisi musiknya yang kental dengan nuansa K-pop.
Namun, di balik kesuksesan lagu-lagu yang mendunia itu, terdapat sebuah cerita menarik mengenai proses kreatifnya.
Menariknya, sejak awal, para kreator dan sutradara film ini, Maggie Kang dan Chris Appelhans, tidak memiliki niat untuk menjadikan musik K-pop sebagai elemen sentral dalam film.
Gagasan awal Kang adalah menciptakan film yang mengeksplorasi budaya Korea, berfokus pada perempuan, dukun, ritual, serta lagu dan tarian tradisional.
Ia melihat adanya energi kuat yang menghubungkan penampil dan penonton dalam ritual-ritual tersebut, serupa dengan konser K-pop.
Energi inilah yang ingin ia jadikan sebagai kekuatan super dalam film.
Pandemi COVID-19 yang melanda dunia kemudian memberikan inspirasi tak terduga bagi Appelhans.
Saat itu, ia menyaksikan bagaimana BTS menggelar konser virtual dan bagaimana musik mampu menjadi kekuatan yang melawan kegelapan di tengah situasi global yang sulit.
Hal ini memicu mereka untuk mencurahkan seluruh tenaga dan hati dalam membuat film yang merayakan kekuatan musik.
Proses Pemilihan Musisi KPop Demon Hunters
Ketika produksi KPop Demon Hunters mulai berjalan, pertanyaan krusial muncul: siapa yang akan bertanggung jawab menciptakan lagu-lagu untuk film animasi ini?
Appelhans memiliki keinginan agar lagu-lagu yang dihadirkan mudah diingat oleh penonton, namun di sisi lain juga memiliki makna yang mendalam.
Keinginan ini akhirnya terjawab berkat Agnes Lee, seorang produser di Sony Pictures Animation.
Saat membaca naskah KPop Demon Hunters, Lee langsung teringat pada satu label musik yang dianggap paling tepat: The Black Label.
Ia merasa bahwa energi dan identitas unik K-pop yang dicari dapat ditangkap oleh label tersebut, yang dikenal dengan karya-karyanya bersama artis seperti 2NE1 dan BLACKPINK.