>>> Jadwal Liga Super 2026: PSM vs Persib Tayang Langsung di Indosiar
Selain itu, ketidakpastian politik domestik menjelang pemilu juga bisa mempengaruhi. Namun, sejauh ini pasar masih merespons positif stabilitas politik.
Untuk mencapai penguatan seperti era Habibie, diperlukan kombinasi kebijakan yang tepat. Termasuk reformasi struktural, pengendalian inflasi, dan peningkatan daya saing ekspor.
Bank Indonesia juga terus menjaga kredibilitas kebijakan moneter. Suku bunga yang kompetitif dan cadangan devisa yang memadai menjadi modal penting.
Meskipun tekanan fundamental masih kuat, bukan tidak mungkin rupiah berbalik menguat. Kuncinya adalah konsistensi kebijakan dan pemulihan kepercayaan pasar.
Sejarah menunjukkan bahwa rupiah pernah bangkit dari keterpurukan. Namun, setiap era memiliki dinamika dan tantangan yang berbeda.
Yang jelas, pelemahan saat ini tidak separah 1998.
Fundamental ekonomi Indonesia jauh lebih kuat, dengan cadangan devisa yang lebih besar dan sistem keuangan yang lebih stabil.
Oleh karena itu, prospek penguatan rupiah tetap terbuka. Hanya saja, waktunya mungkin tidak secepat yang terjadi pada era Habibie.
Pasar akan terus memantau perkembangan kebijakan dan data ekonomi. Jika fundamental membaik, rupiah berpotensi kembali ke level yang lebih wajar.
Kesimpulannya, pelemahan rupiah saat ini berbeda dengan 1998. Faktor psikologis lebih dominan dulu, kini fundamental.
>>> AHY: Perang Timur Tengah Picu Kenaikan Harga Tiket Pesawat
Namun, dengan kebijakan yang tepat, penguatan tetap mungkin terjadi.