unique visitors counter
⌂ Beranda Ragam Pelemahan Rupiah: Bisakah Berbalik Seperti Era Habibie?

Pelemahan Rupiah: Bisakah Berbalik Seperti Era Habibie?

Pelemahan Rupiah: Bisakah Berbalik Seperti Era Habibie?
A A Ukuran Teks16px

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menjadi sorotan. Banyak pihak bertanya-tanya, apakah kondisi saat ini bisa berbalik seperti yang terjadi pada era Presiden BJ Habibie?

Pada 1998, rupiah mengalami tekanan sangat berat akibat krisis moneter. Namun, setelah pergantian kepemimpinan, rupiah perlahan menguat.

>>> Jadwal Tayang Witch Hat Atelier Episode 8 Sub Indo di Netflix

IN2

Perbedaan Faktor Pelemahan

Menurut analisis, pelemahan rupiah pada 1998 sangat didorong oleh faktor psikologis. Sementara itu, tekanan saat ini lebih bersifat fundamental.

Faktor psikologis saat itu terkait dengan ketidakpastian politik dan kepercayaan pasar yang rendah. Hal ini membuat rupiah anjlok meskipun fundamental ekonomi tidak seburuk yang dirasakan.

Setelah Presiden Soeharto lengser dan digantikan Habibie, kepercayaan pasar perlahan pulih. Faktor psikologis pun berbalik menjadi sentimen positif.

in2

Kini, pelemahan rupiah lebih banyak dipengaruhi oleh faktor fundamental. Misalnya, kenaikan suku bunga acuan AS, defisit transaksi berjalan, dan perlambatan ekonomi global.

Faktor fundamental cenderung lebih sulit diatasi dalam jangka pendek. Dibutuhkan kebijakan struktural untuk memperkuat fundamental ekonomi.

Meski demikian, bukan berarti tidak ada harapan. Pemerintah dan Bank Indonesia terus berupaya menstabilkan rupiah.

Beberapa langkah telah dilakukan, seperti intervensi di pasar valas, penerbitan instrumen devisa, dan pengendalian impor. Namun, efektivitasnya masih perlu diuji.

Perbandingan dengan era Habibie menunjukkan bahwa faktor psikologis bisa berubah cepat. Namun, untuk kasus saat ini, perubahan fundamental membutuhkan waktu lebih lama.

Optimisme pasar terhadap prospek ekonomi Indonesia juga menjadi kunci. Jika investor yakin dengan arah kebijakan, tekanan terhadap rupiah bisa berkurang.

Sayangnya, sentimen global saat ini masih didominasi oleh penguatan dolar AS. Hal ini menjadi tantangan bagi hampir semua mata uang emerging market.

M
Tim Redaksi
Penulis: Maria Renata
📰 Update Terbaru