Pemerintah Indonesia memperkuat ekspansi dan promosi produk pangan nasional ke pasar global melalui ajang pameran internasional SIAL Shanghai 2026.
Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri mengatakan industri makanan dan minuman merupakan salah satu sektor manufaktur terbesar Indonesia.
>>> Kemkomdigi Blokir 3,45 Juta Situs Judi Online sejak Oktober 2024
Sektor ini berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, penciptaan lapangan kerja, serta peningkatan ekspor nonmigas.
"Indonesia terus mendorong penguatan industri makanan dan minuman sebagai salah satu motor pertumbuhan ekonomi nasional," kata Wamendag Roro saat menjadi pembicara kunci pada pembukaan SIAL Shanghai 2026 di Shanghai New International Expo Centre (SNIEC), Tiongkok, Senin (18/5/2026).
Kehadiran Indonesia pada forum internasional ini menjadi bagian dari upaya memperluas promosi ekspor.
Selain itu, ajang ini membuka peluang kerja sama perdagangan serta memperkuat diplomasi ekonomi Indonesia dengan Tiongkok dan negara mitra lainnya.
Kinerja Positif Ekspor Makanan Olahan
Indonesia mencatat kinerja positif pada sektor makanan olahan dengan total nilai ekspor mencapai 6,25 miliar dolar AS pada 2025.
Produk pangan Indonesia telah menjangkau berbagai pasar utama dunia, termasuk Amerika Serikat, Filipina, Malaysia, Tiongkok, dan Thailand.
Tiongkok merupakan salah satu pasar strategis bagi produk makanan olahan Indonesia, seiring tingginya permintaan impor pangan di negara tersebut.
Kondisi ini membuka peluang besar bagi pelaku usaha Indonesia untuk meningkatkan ekspor produk bernilai tambah.
Produk tersebut meliputi kopi, rempah-rempah, gula aren, kakao olahan, produk turunan kelapa, hingga berbagai makanan kemasan.
Roro Esti menekankan keberhasilan produk Indonesia menembus pasar global tidak hanya ditentukan oleh kapasitas produksi.
Kualitas produk dan kepatuhan terhadap standar internasional juga menjadi faktor penting.