Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) mengeluarkan subpoena untuk meminta data pelanggan dari Apple, Google, Amazon, dan Walmart.
Permintaan ini terkait dengan pengguna aplikasi tuning mobil EZ Lynk yang bernama Auto Agent.
>>> Balita 3 Tahun Selamat dari Mobil Terbalik Usai Ibunya Kabur dari Polisi
Menurut laporan Forbes, DOJ mencari informasi pengguna yang mengunduh aplikasi tersebut. Jumlahnya mencapai lebih dari 100.000 orang.
Latar Belakang Kasus
EZ Lynk adalah perusahaan yang berbasis di Kepulauan Cayman. Perusahaan ini menghadapi gugatan berdasarkan Clean Air Act.
Aplikasi Auto Agent memungkinkan pengguna memantau berbagai fungsi vital kendaraan melalui perangkat OBDII.
Namun, DOJ menilai aplikasi ini juga menjadi platform bagi tuner dan pelanggan untuk bertukar data tuning.
Pemerintah berpendapat bahwa EZ Lynk membangun ekosistem yang dirancang untuk menghilangkan sistem emisi. Sementara itu, perusahaan mengklaim hanya menyediakan alat untuk diagnostik, pemantauan, dan tuning yang legal.
Pengacara EZ Lynk menyatakan bahwa penyelidikan tidak memerlukan identifikasi setiap pengguna produk. Mereka menambahkan bahwa Google dan Apple berencana menolak permintaan data tersebut.
Walmart dilaporkan menolak berkomentar. Amazon juga belum memberikan tanggapan resmi.
Ketegangan dengan Kebijakan Baru
Pada Januari lalu, pemerintahan saat ini menyatakan akan menghentikan penuntutan pidana terkait manipulasi perangkat lunak emisi. DOJ bahkan memerintahkan penghentian semua kasus serupa.
Namun, kasus EZ Lynk bukanlah kasus pidana, melainkan perdata. Hal ini memungkinkan DOJ untuk melanjutkan penyelidikan.
Jika terbukti bersalah, EZ Lynk bisa menghadapi denda perdata yang besar. Namun, untuk itu DOJ membutuhkan data pribadi lebih dari 100.000 orang.
>>> Pembocor Forza Horizon 6 Dilarang 7.973 Tahun, Tapi Kembali Online Malam Itu Juga
Langkah ini menuai kritik dari para pegiat privasi. Mereka menilai permintaan data sebanyak itu melampaui batas kasus yang sedang diselidiki.