Novel debut Cho Yeeun berjudul 'Shift' mengajukan pertanyaan mendasar: apa yang rela Anda korbankan demi sebuah keajaiban? Nyawa sendiri, atau orang lain?
Dan jika itulah harganya, nyawa siapa yang layak diselamatkan?
>>> Pastor Jack Graham: Peran Pendeta Tak Berubah di Era Digital
Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi inti dari 'Shift', yang memenangkan grand prize di Kyobo Bookstore Story Contest ke-4 pada 2016.
Kini novel tersebut diterbitkan oleh Honford Star, penerbit asal Inggris, dengan terjemahan bahasa Inggris oleh Yewon Jung.
Plot yang Menggugah
Detektif Yi Chang, yang adiknya pernah diselamatkan oleh keajaiban 10 tahun lalu, kini membutuhkan keajaiban lain untuk menyelamatkan keponakannya yang menderita penyakit sama.
Petunjuk utamanya adalah mayat yang dipenuhi tumor ganas, ditemukan di tempat persembunyian pantai terpencil.
Semakin dalam Yi Chang menyelidiki kebenaran di balik peristiwa masa lalu, semakin ia menyadari bahwa keajaiban bukanlah hal yang polos.
Bahkan berkah terkecil pun bisa mendatangkan harga yang mengerikan.
Dibagi menjadi tiga bagian, 'Shift' pertama mengikuti pencarian Yi Chang, lalu beralih ke seorang pemuda bernama Lan yang menyimpan rahasia keajaiban yang didambakan.
Kedua alur cerita bertemu di bagian akhir.
Saudara laki-laki Lan, Chan, memainkan peran penting. Masa kecil mereka dibentuk oleh kekejaman dua bersaudara yang menjalankan sekte agama.
Penggambaran Cho tentang penculikan anak, kekerasan, dan penderitaan fisik mungkin sulit dibaca, tetapi sangat beresonansi.
Mekanisme Keajaiban dan Moralitas
Mekanisme di balik keajaiban terkait dengan judul novel dan inspirasinya. "Saat anggota keluarga sakit, orang sering berkata, 'Andai aku bisa mengambil rasa sakit mereka.'
Cerita ini dimulai dari pemikiran sederhana itu," kata Cho dalam wawancara dengan K-Book Trends tahun lalu.