unique visitors counter
⌂ Beranda Lifestyle Retrospektif Yoo Young-kuk di Seoul Soroti Lanskap Batin Sang Pelukis

Retrospektif Yoo Young-kuk di Seoul Soroti Lanskap Batin Sang Pelukis

Retrospektif Yoo Young-kuk di Seoul Soroti Lanskap Batin Sang Pelukis
Lukisan abstrak Yoo Young-kuk dipamerkan di Seoul Museum of Art
A A Ukuran Teks16px

"Meskipun Yoo adalah seniman yang sangat dihormati—ia menjadi seniman hidup pertama yang mengadakan pameran tunggal di Museum Nasional Seni Modern dan Kontemporer pada 1979—ia menjalani kehidupan yang sebagian besar terpencil," kata Yeo.

"Itulah mengapa ia kurang dikenal publik dibandingkan beberapa rekannya seperti Kim Whanki dan Lee Jung-seob, meskipun konsistensi dan integritas jalur artistiknya," jelasnya.

Gunung sebagai Metafora Batin

Inti pameran ini adalah motif gunung yang berulang dalam karya Yoo. Namun, karya terinspirasi gunungnya bukanlah lanskap literal, melainkan gambar esensi alam dan ritme batin sang seniman.

IN2

Bentuk segitiga berulang dan kontras mencolok antara merah, biru, hijau, dan ungu menciptakan ketegangan visual.

>>> Pastor Jack Graham: Peran Pendeta Tak Berubah di Era Digital

"Gunung bukanlah sesuatu di hadapanku, ia ada di dalam diriku," demikian kutipan Yoo pada 1977 yang menyambut pengunjung.

in2

Di tahun-tahun terakhirnya, terutama setelah usia 60 tahun, karya Yoo beralih ke abstraksi yang lebih liris. Ketegangan geometris yang tajam dari lukisan awal melunak menjadi harmoni kontemplatif.

SeMA menafsirkan fase ini sebagai "citra abstrak," di mana diri dan alam mencapai harmoni yang dalam.

Kehidupan Yoo mencerminkan gejolak sejarah modern Korea.

Setelah belajar abstraksi di Tokyo selama masa kolonial Jepang, ia mengalami masa sulit setelah kemerdekaan dan Perang Korea (1950-53).

Ia menghidupi keluarganya melalui berbagai cara sebelum kembali melukis. Selama hidupnya, ia menghasilkan sekitar 800 lukisan cat minyak.

Yoo Jin, putra sulung sang seniman dan ketua Yayasan Seni Yoo Young-kuk, merefleksikan judul pameran. "'Gunung dalam diriku' bukanlah gunung yang terlihat, melainkan yang diproyeksikan dalam pikiran," katanya.

"Itu menunjukkan bahwa kebenaran tidak ada di luar, tetapi di dalam, dan harus ditemukan melalui introspeksi. Itulah cara Yoo Young-kuk bertahan sebagai seorang seniman," tambahnya.

R
Tim Redaksi
Penulis: Retno Widyawati
📰 Update Terbaru