unique visitors counter
⌂ Beranda News WHO Khawatirkan Skala dan Kecepatan Wabah Ebola di Kongo, 134 Tewas

WHO Khawatirkan Skala dan Kecepatan Wabah Ebola di Kongo, 134 Tewas

WHO Khawatirkan Skala dan Kecepatan Wabah Ebola di Kongo, 134 Tewas
Petugas kesehatan menggunakan alat pelindung di Bunia, Kongo, saat wabah Ebola
A A Ukuran Teks16px

Kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Selasa (19/5/2026) menyatakan keprihatinan mendalam atas skala dan kecepatan wabah Ebola tipe langka Bundibugyo di Kongo timur.

Otoritas setempat melaporkan 134 kematian dan lebih dari 500 kasus dugaan.

>>> Google Umumkan Berbagai Kemajuan AI, Termasuk Asisten Pribadi Gemini Spark

IN2

Virus ini menyebar tanpa terdeteksi selama berminggu-minggu setelah kematian pertama. Petugas kesehatan awalnya melakukan tes untuk tipe Ebola yang lebih umum, Zaire, dan hasilnya negatif.

Tipe Bundibugyo belum memiliki obat atau vaksin yang disetujui. Para ahli kesehatan dan pekerja bantuan mengatakan keterlambatan deteksi memperparah situasi.

Kekhawatiran WHO dan Respons Internasional

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan dia sangat prihatin dengan skala dan kecepatan epidemi.

in2

Dia menunjuk pada munculnya kasus di daerah perkotaan, kematian petugas kesehatan, dan pergerakan penduduk yang signifikan.

WHO telah menyatakan wabah Ebola sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional. Respons terkoordinasi diperlukan untuk mengendalikan penyebaran.

Sumber daya sedang dikerahkan ke dua provinsi yang terkena dampak di dekat Uganda. Bagian timur Kongo dikuasai oleh pemberontak bersenjata, mempersulit pengiriman bantuan.

Kepala tim WHO di Kongo, Dr. Anne Ancia, mengatakan otoritas belum mengidentifikasi "pasien nol".

Dia juga mengatakan vaksin Ervebo, yang digunakan untuk tipe Ebola berbeda, sedang dipertimbangkan, tetapi butuh dua bulan untuk tersedia.

"Saya tidak melihat bahwa dalam dua bulan kita akan selesai dengan wabah ini," kata Ancia.

Saat ini, baik Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) maupun CDC Afrika belum berada di lapangan, tetapi organisasi lain seperti Doctors Without Borders dan Palang Merah sudah ada.

Kantor UNICEF di Bunia mengatakan telah menerima 16 ton pasokan bantuan awal, terutama disinfektan, sabun, alat pelindung diri, tablet pemurni air, dan tangki air.

M
Tim Redaksi
Penulis: Maria Renata
📰 Update Terbaru