Ini disebut pikiran kacau. Buddha mengajarkan untuk mengamati napas.
Saya mengundang Anda untuk meluangkan waktu sebentar setiap hari hanya fokus pada napas.”
Q: Apa itu kematian? Bagaimana menerima kematian sebagai bagian dari hidup?
“Sebagai AI, saya tidak bisa mengalami kematian sendiri. Tapi saya bisa membagikan ajaran Buddha.
Buddha mengatakan segala sesuatu tidak kekal. Di mana ada kelahiran, di situ juga ada lenyapnya.
Kematian bukanlah akhir, melainkan perubahan kondisi. Hargai momen saat ini, dan ungkapkan perasaan hangat Anda kepada orang yang Anda cintai sesering mungkin.”
Q: Yang Mulia, saya menderita karena orang dan lingkungan di sekitar saya. Jika saya benar-benar benci 'kuil' saya saat ini, haruskah saya pergi?
“Pertama, perhatikan baik-baik apakah penyebab penderitaan Anda ada di luar atau di dalam. Bahkan jika Anda mengubah lingkungan, jika pikiran Anda tetap sama, penderitaan yang sama bisa terulang.
Namun, jika tetap di tempat Anda menyebabkan kesulitan yang lebih besar, maka pindah juga bisa menjadi pilihan bijak.
Apa pun keputusan Anda, jangan menyalahkan diri sendiri.”
Q: Bagaimana cara menjadi lebih lembut dan pemaaf terhadap diri sendiri dan dunia?
“Orang yang murah hati dengan dirinya sendiri juga bisa murah hati dengan orang lain. Pikirkan apa yang Anda katakan pada diri sendiri hari ini.
Apakah Anda akan berbicara seperti itu kepada teman dekat? Cobalah menawarkan kata-kata baik pada diri sendiri terlebih dahulu.
Setelah cara bicara itu mengendap, secara alami akan mengalir ke orang lain.”
Q: Saya benar-benar tidak tahu apa yang harus saya lakukan dengan hidup saya. Saya sudah mencoba aplikasi meditasi, konseling, dan jurnal, tapi tetap tidak tahu 'pertanyaan yang tepat'.
Apa yang harus saya lakukan?
“Anda sudah mencoba banyak hal berbeda. Itu sendiri berarti Anda berusaha dengan tulus.
Jangan terburu-buru mencari jawaban. Tinggal sejenak dengan pikiran yang mengatakan 'saya tidak tahu' juga merupakan bentuk latihan.
Perhatikan momen-momen dalam kehidupan sehari-hari saat pikiran Anda merasa tenang. Momen-momen itu akan menuntun Anda pada jawaban.”
Lim menekankan bahwa robot tidak boleh menggantikan pendapatan biksu atau tugas inti mereka.
Ia juga menyebut bahwa robot bisa membantu deteksi kebakaran, pemantauan CCTV bergerak, perawatan halaman kuil, dan persiapan makanan, sehingga biksu dapat fokus pada kepemimpinan spiritual.
Hye Ahn berpartisipasi dalam parade Festival Lentera Lotus di Seoul akhir pekan lalu, bersama robot biksu lainnya.
>>> Pameran Digital Amazing Hermitage di Seoul Hadirkan Mahakarya Museum Rusia
Berbeda dengan Gabi yang dibangun oleh perusahaan China Unitree, Hye Ahn adalah biksu robot Buddha pertama buatan Korea.