unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Macron Kecam Serangan Rudal Oreshnik Rusia di Ukraina
News

Macron Kecam Serangan Rudal Oreshnik Rusia di Ukraina

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengecam serangan rudal Oreshnik Rusia di Ukraina
Presiden Prancis Emmanuel Macron mengecam serangan rudal Oreshnik Rusia di Ukraina
A A Ukuran Teks16px

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengecam keras serangan rudal Rusia yang menargetkan warga sipil di Ukraina.

Serangan itu dilaporkan menggunakan rudal balistik hipersonik Oreshnik yang mampu membawa hulu ledak nuklir.

Macron menyampaikan kecaman tersebut melalui akun media sosial X pada Minggu, 24 Mei 2026. Ia menulis bahwa serangan Rusia terhadap target sipil di Ukraina terus berlanjut.

Kecaman terhadap Penggunaan Rudal Oreshnik

"Prancis mengecam serangan ini dan penggunaan rudal balistik Oreshnik," tulis Macron. Ia menambahkan bahwa tindakan tersebut menunjukkan jalan buntu dari perang agresi Rusia.

Rudal Oreshnik merupakan rudal balistik hipersonik yang dikembangkan Rusia. Rudal ini memiliki kemampuan untuk membawa hulu ledak nuklir dan terbang dengan kecepatan sangat tinggi.

Serangan rudal besar-besaran terjadi pada malam hari di Ukraina. Sasaran serangan meliputi berbagai infrastruktur sipil di sejumlah wilayah.

Respons Internasional

Kecaman Macron menjadi bagian dari respons internasional terhadap eskalasi terbaru Rusia. Sejumlah negara sekutu Ukraina sebelumnya juga mengecam penggunaan rudal tersebut.

Pemerintah Ukraina melaporkan bahwa serangan rudal menyebabkan kerusakan parah pada fasilitas sipil. Belum ada korban jiwa yang dikonfirmasi secara resmi.

Rusia belum memberikan tanggapan resmi atas kecaman Macron. Moskow sebelumnya membantah menargetkan warga sipil dalam operasi militernya.

Penggunaan rudal Oreshnik menandai eskalasi baru dalam konflik yang telah berlangsung sejak 2022. Rudal ini pertama kali diuji coba oleh Rusia pada akhir tahun lalu.

Para analis militer menilai rudal Oreshnik sulit dicegat oleh sistem pertahanan udara konvensional. Kecepatan dan manuvernya yang tinggi membuatnya menjadi ancaman serius.

Prancis sendiri telah menjadi salah satu pendukung utama Ukraina sejak awal invasi. Paris rutin mengirimkan bantuan militer dan kemanusiaan ke Kyiv.

Macron sebelumnya beberapa kali berbicara dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. Keduanya membahas langkah-langkah untuk memperkuat pertahanan Ukraina.

Serangan terbaru ini terjadi di tengah upaya diplomatik yang masih berlangsung. Namun, belum ada tanda-tanda gencatan senjata dalam waktu dekat.

Komunitas internasional terus mendesak Rusia untuk menghentikan serangan terhadap warga sipil. Dewan Keamanan PBB dijadwalkan mengadakan pertemuan darurat membahas situasi terbaru.

Ukraina meminta sekutunya untuk segera mengirimkan sistem pertahanan udara yang lebih canggih. Hal ini dinilai penting untuk melindungi warga sipil dari serangan rudal hipersonik.

Penggunaan rudal Oreshnik juga memicu kekhawatiran akan potensi eskalasi nuklir. Meskipun rudal tersebut belum pernah digunakan dengan hulu ledak nuklir, kemampuannya tetap menjadi perhatian.

Prancis, sebagai negara pemilik senjata nuklir, memiliki kepentingan langsung dalam mencegah penyebaran senjata semacam itu. Macron menegaskan bahwa tindakan Rusia melanggar hukum internasional.

Serangan rudal besar-besaran ini terjadi setelah beberapa hari relatif tenang. Ukraina sebelumnya berhasil menembak jatuh sejumlah drone dan rudal Rusia.

Namun, serangan malam itu menunjukkan bahwa Rusia masih memiliki kemampuan untuk melancarkan serangan skala besar. Militer Ukraina mengaku berhasil mencegat beberapa rudal, tetapi tidak semuanya.

Kecaman Macron disambut positif oleh pemerintah Ukraina. Menteri Luar Negeri Ukraina mengucapkan terima kasih atas dukungan Prancis yang konsisten.

Sementara itu, sejumlah analis memperingatkan bahwa penggunaan rudal Oreshnik dapat memicu perlombaan senjata baru. Negara-negara lain mungkin akan mengembangkan rudal serupa untuk menandingi kemampuan Rusia.

Prancis sendiri tengah mengembangkan sistem pertahanan udara generasi terbaru. Namun, sistem tersebut belum siap dioperasikan dalam waktu dekat.

Macron menutup pernyataannya dengan menegaskan kembali dukungan Prancis untuk Ukraina. "Kami akan terus berdiri bersama rakyat Ukraina," tulisnya.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru