Bagi orang tua paruh baya yang sudah bertemu calon besan dan menyiapkan hadiah pernikahan mahal, perpisahan mendadak bisa sangat menghancurkan secara emosional.
Banyak warganet bereaksi dengan tidak percaya, bertanya: "Di era kecerdasan buatan, orang masih memutuskan pernikahan karena ramalan?"
>>> Sepatu Hybrid Gabungkan Gaya Loafers dengan Kenyamanan Sneakers, Tren Fashion Terbaru
Beberapa perselisihan bahkan berujung pada tuntutan hukum atas ganti rugi akibat pertunangan yang dibatalkan.
Kepercayaan pada ramalan masih mengakar kuat di masyarakat Korea.
Survei Gallup Korea yang sama menemukan bahwa 40 persen mengatakan mereka percaya pada ramalan saju, pembacaan wajah, atau praktik peramalan lainnya.
Angka itu hampir identik dengan 40 persen yang tercatat pada tahun 1991.
Sebanyak 50 persen responden wanita jauh lebih mungkin percaya pada ramalan dibandingkan pria yang hanya 20 persen. Kepercayaan meningkat seiring bertambahnya usia.
Tingkat kepercayaan sempat menurun dari waktu ke waktu, dengan 40 persen setuju pada 1991, 34 persen pada 2004, dan 31 persen pada 2009.
Pada 2026, angkanya kembali ke 40 persen.
Di antara responden, 22 persen pria dan 58 persen wanita mengatakan pernah membayar jasa peramal.
Angka itu sangat tinggi di kalangan wanita yang lebih tua: hanya 8 persen pria berusia 20-an yang pernah membayar untuk ramalan, sementara 71 persen wanita berusia 60 tahun ke atas melakukannya.
Gallup Korea menyebutkan bahwa orang yang secara pribadi tidak tertarik pada ramalan mungkin tetap terpapar secara tidak langsung melalui orang tua atau pasangan yang berkonsultasi dengan peramal.
Di antara mereka yang membayar untuk ramalan, 59 persen mengatakan ramalan itu "sesuai dengan kenyataan" dan 71 persen mengatakan mereka menggunakan saran peramal dalam pengambilan keputusan.
>>> Gong Hyo-jin Bagikan Resep Yogurt Bowl Favoritnya
Namun, Gallup mencatat bahwa survei tidak membuktikan hubungan sebab akibat antara kepercayaan pada ramalan dan persepsi bahwa ramalan itu menjadi kenyataan.